Kemenag RI 2019:Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). Prof. Quraish Shihab:Dan di sisi-Nya kunci-kunci gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Dan tidak ada sehelai daun pun yang jatuh melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak (pula) sebutir biji yang jatuh dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (semuanya) tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). Prof. HAMKA:Dan pada sisi-Nyalah kunci-kunci yang gaib. Tidaklah mengetahui akan dia kecuali Dia dan Dialah yang mengetahui apa yang di darat dan di laut. Dan tidaklah gugur dari sehelai daun pun kecuali dengan pengetahuan-Nya dan tidak pun satu biji di gelap gulita bumi dan tidak yang basah dan tidak yang kering, melainkan ada di dalam kitab yang nyata.
Ayat ke-59 dari surat Al-An’am ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang ghaib hanya Allah yang mengetahui. Tidak ada sehelai daun yang jatuh, sebutir biji yang tersembunyi di dalam bumi, sesuatu yang basah atau kering, melainkan semua sudah tercatat dalam kitab yang jelas, yaitu Lauh Mahfuzh. Ayat ini mengajarkan betapa luas dan sempurnanya ilmu Allah.
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ
Kata wa‘indahu (وَعِنْدَهُ) artinya : dan di sisi-Nya. Bisa juga dimaknai : dan Dia memiliki.
Kata mafaatih (مَفَاتِحُ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu miftah yang artinya : kunci, atau alat untuk membuka sesuatu yang tertutup. Jika dalam bentuk jamak maka hal itu menunjukkan bahwa Allah punya begitu banyak kunci, bukan hanya satu.
Kata al-ghaibi (الْغَيْبِ) secara sederhana diterjemahkan dengan : yang ghaib. Biasanya kata ghaib itu dipahami sebagai sesuatu yang tersembunyi dari pancaindra manusia.
Penggalan ini memberikan kita pemahanan bahwa segala sesuatu yang ghaib bukan sekadar berada dekat dengan Allah, tapi memang berada dalam genggaman dan kepemilikan mutlak Allah, tidak ada yang mampu menandinginya.
Di dalam banyak kitab tafsir, seperti tafsir Ath-Thabari, Ibnu Katsir dan Al-Qurthubibanyak termuat riwayat dari Ibnu ‘Abbas terkait dengan mafatih al-ghaib (مَفَاتِحُ الْغَيْبِ). Beliau berkata:
المفاتح الخمس التي لا يعلمها إلا الله
“Ada lima kunci perkara ghaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.”
Sumber rujukannya adalah apa yang tertuang pada ayat terakhir dari surat Luqman :
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman: 34)
1. Ilmu tentang Kapan Kiamat Tiba
Kapan tepatnya terjadi kiamat memang tidak ada malaikat, nabi, atau siapa pun yang mengetahuinya. Hanya Allah yang tahu waktu pastinya. Walaupun begitu banyak tanda-tanda kiamat yang sudah terjadi, bahkan sudah terlewati, namun yang pasti kiamat sampai detik ini belum terjadi.
Ada hadits shahih yang menjelaskan bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan tanda dekatnya kiamat. Salah satunya adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
Dari Sahl bin Sa‘d radhiyallahuanhu bahwa dia berkata: Aku melihat Rasulullah SAW bersabda sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya, kemudian beliau bersabda: “Aku diutus bersama kiamat seperti ini (yakni sangat dekat).” (HR. Bukhari, Muslim ).
Perumpamaan jari telunjuk dan jari tengah menunjukkan betapa dekatnya jarak antara diutusnya Nabi SAW dengan datangnya hari kiamat. Kehadiran Nabi SAW menutup mata rantai kenabian, sehingga tidak ada lagi nabi setelah beliau. Ini menjadi salah satu tanda besar bahwa dunia sudah mendekati akhirnya. Para ulama menjelaskan bahwa sejak masa kenabian, sebenarnya fase “akhir zaman” sudah dimulai.
Namun faktanya, Nabi SAW sudah wafat sejak 14 abad yang lalu, ternyata kiamat tidak datang-datang juga. Semua perkiraan para ulama yang membaca hadits di atas meleset jauh. Tidak ada satupun yang benar. Kenapa? Sebab pada akhirnya kiamat itu 100% hak prerogratif Allah SWT untuk menggelarnya.
2. Turunnya Hujan
Bagaimana dengan ilmu tentang hujan? Apakah manusia tidak punya ilmunya dan jadi barang ghaib bagi peradaban manusia?
Di masa lalu, setidaknya di masa kenabian Muhammad SAW ketika ayat ini turun, nampaknya ilmu tentang klimatologi masih jadi misteri. Tidak ada orang yang bisa menerka kapan dan dimana bisa turun hujan.
Namun di masa modern ini dengan kemajuan teknologi yang luar biasa, apa yang dahulu dianggap masalah ghaib ternyata sudah terpecahkan. Manusia bukan hanya bisa memprediksi hujan, bahkan bisa membuat hujan buatan, sampai bisa juga mengelola jatuhnya hujan.
Maka unsur keghaiban ilmu tentang hujan ini terpecahkan. Berarti boleh dibilang ini masalah ghaib yang masih bisa dijangkau oleh ilmu pengetahuan secara eksak. Tidak ada yang salah dan keliru dari ayat ini, sebab ilmu yang ghaib itu sendiri memang ada banyak peringkatnya.
3. Apa yang Ada dalam Rahim
Di masa lalu ketika ayat ini turun, manusia belum banyak tahu tentang keadaan bayi di dalam rahim. Bahkan sekedar untuk mengetahui apakah bayi itu laki-laki atau perempuan, semua masih gelap.
Namun di masa kini ilmu pengetahuan manusia sudah berkembang jauh. Ada ilmu Embriologi atau disebut ilmu al-ajinnah (علم الأجنة), yaitu cabang ilmu biologi dan kedokteran yang mempelajari proses terbentuknya, pertumbuhan, dan perkembangan janin sejak pembuahan hingga lahir.
Dalam kedokteran modern, juga dikenal istilah Obstetri, yaitu cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada kehamilan, persalinan, dan nifas. Obstetri biasanya dipadukan dengan ginekologi, yaitu ilmu kesehatan reproduksi wanita, sehingga sering disebut Obgyn.
4. Apa yang Akan Diperoleh Besok
Pada bagian rejeki pemberian Allah SWT, manusia hanya bisa sampai pada usaha, kerja, persiapan dan perencanaan, tapi tidak tahu dengan pasti seperti apa rejeki yang akan diterimanya esok hari.
5. Di Bumi Mana Seseorang Akan Mati
Manusia bisa bermukim, bepergian, atau berobat, tapi tidak tahu persis di titik mana ajalnya akan datang.
لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
Kata laa ya‘lamu-haa (لا يَعْلَمُهَا) artinya : tidak ada yang mengetahuinya. Dhamir ha (هَا) itu kembali kepada mafatihul ghaib yaitu kunci-kunci keghaiban.
Kata illaa huwa(إِلَّا هُوَ) artinya : kecuali Dia, yaitu Allah SWT. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan manusia itu ada batasnya. Sedangkan ilmu Allah itu sempurna tanpa batas.
وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
Kata waya‘lamu (وَيَعْلَمُ) artinya : dan Dia mengetahui. Kata maa fil barri (مَا فِي الْبَرِّ) artinya : apa yang ada di daratan. Kata wal-bahri (وَالْبَحْرِ) artinya : dan lautan.
Allah secara khusus menyebut darat dan laut karena keduanya adalah makhluk ciptaan yang paling besar dan paling dekat dengan manusia. Maksudnya, Allah mengetahui apa saja yang binasa di darat maupun di laut.
Ada pula yang mengatakan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di darat maksudnya tumbuh-tumbuhan, biji-bijian, dan inti-inti, serta apa yang ada di laut berupa binatang-binatang dan rezeki yang ada di dalamnya.
وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
Kata wa maa (مَا) artinya : dan tidak. Kata tasquthu (تَسْقُطُ) artinya : jatuh atau gugur. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata waraqatin (وَرَقَةٍ) artinya : sehelai daun. Kata illaa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata ya‘lamuhaa (يَعْلَمُهَا) artinya : Dia mengetahuinya.
Buat kita yang awam, jatuhnya daun dari pohon itu mungkin dianggap lumrah dan biasa. Namun dalam ilmu tentang tumbuh-tumbuhan, jatuhnya daun dari pohonnya terkait dengan faktor biologis, fisiologis, dan juga lingkungan. Dalam ilmu botani, peristiwa ini disebut dengan abscission (gugurnya daun).
Dalam ilmu botani, gugurnya daun adalah mekanisme adaptasi yang sangat penting agar pohon bisa bertahan hidup. Ketika musim kemarau atau musim dingin tiba, ketersediaan air dan sinar matahari berkurang. Pada kondisi itu, daun justru bisa menjadi beban karena pohon kehilangan banyak air. Dengan melepaskan daun, pohon mengurangi penguapan sehingga lebih hemat dalam menggunakan cadangan air.
Selain itu, gugurnya daun juga bagian dari cara pohon untuk mengatur energi. Daun adalah organ fotosintesis, tetapi jika cuaca ekstrem, fotosintesis tidak berjalan optimal. Daripada mempertahankan daun yang tidak produktif dan justru menguras energi, pohon lebih baik menanggalkannya, lalu menyimpan energi di batang dan akar untuk bertahan hingga musim yang lebih mendukung tiba.
Proses ini juga sekaligus merupakan cara alami pohon untuk membersihkan diri. Daun yang sudah tua, sakit, atau rusak dilepaskan agar tidak menjadi beban. Setelah itu, pada musim yang lebih baik, pohon akan menumbuhkan daun baru yang lebih segar, sehat, dan siap melakukan fotosintesis secara optimal.
Dengan kata lain, pohon melepaskan daun dalam rangka menjaga keseimbangan hidupnya: menghemat air, melindungi diri dari kondisi lingkungan yang berat, serta memperbarui organ fotosintesisnya. Itulah sebabnya gugurnya daun sebenarnya adalah tanda kebijaksanaan ciptaan Allah, bukan sekadar peristiwa sederhana.
وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ
Kata walaa (وَلَا) artinya : dan tidak. Kata habbatin (حَبَّةٍ) artinya : sebutir biji. Kata fii (فِي) artinya : di dalam. Kata zhulumaat (ظُلُمَاتِ) artinya : kegelapan-kegelapan, merupakan bentuk jamak dari zhulmah, dipakai untuk menunjukkan banyak lapisan gelap. Kata al-ardhi (الْأَرْضِ) artinya : bumi.
Sebagaimana daun yang gugur memiliki makna tersendiri, begitu juga biji yang jatuh ke bumi. Biji tidak sekadar benda mati yang terlepas dari tumbuhan induknya, tetapi ia adalah cikal bakal kehidupan baru. Dalam kegelapan tanah, tersembunyi rahasia besar dari proses kehidupan yang Allah atur dengan sangat teliti.
Biji yang jatuh ke tanah membawa potensi kehidupan di dalamnya. Saat berada dalam kondisi yang tepat, maka biji akan berkecambah. Dari dalam kegelapan bumi, akar pertama menembus tanah untuk mencari nutrisi, sementara tunas kecil bergerak ke atas menuju cahaya. Proses ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat kompleks.
Tanah yang gelap dan tertutup itu menjadi laboratorium kehidupan tempat biji dipelihara hingga siap tumbuh. Tidak ada seorang pun manusia yang mampu mengetahui setiap biji yang tersembunyi di dalam bumi, berapa jumlahnya, kapan ia akan tumbuh, atau apakah ia akan berhasil menjadi tanaman atau justru mati sebelum berkecambah. Tetapi Allah menegaskan bahwa semua itu berada dalam ilmu-Nya.
Nabi SAW bersabda terkait daun dan biji yang jatuh :
مَا مِنْ زَرْعٍ عَلَى الْأَرْضِ وَلَا ثِمَارٍ عَلَى الْأَشْجَارِ وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ إِلَّا عَلَيْهَا مَكْتُوبٌ بِسْمِ الله الرحمن الرحيم رزق فلان بن فُلَانٍ
“Tidak ada tanaman di bumi, tidak ada buah-buahan di pohon, dan tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi melainkan telah tertulis di atasnya: ‘Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm, rezeki untuk si fulan bin fulan.’”
Tafsir Majazi
Para ulama tafsir tidak hanya memahami kata biji secara fisik, tetapi juga melihat kemungkinan makna majazi atau kiasan. Sebagaimana diketahui, Al-Qur’an sering menggunakan bahasa simbolis untuk menggambarkan hal-hal yang lebih luas.
Sebagian mufassir, seperti yang dikisahkan oleh al-Naqqasy dari Ja‘far bin Muhammad, menafsirkan bahwa biji bisa merujuk kepada sesuatu yang tersembunyi dalam diri manusia. Dalam hal ini, biji dipahami sebagai simbol dari potensi amal, niat, dan rahasia batin yang terpendam dalam hati manusia, sebagaimana biji yang terbenam dalam kegelapan tanah. Allah-lah yang Maha Mengetahui apakah potensi itu akan tumbuh menjadi amal baik atau justru tidak berbuah sama sekali.
Ada juga yang menafsirkan bahwa biji mencakup seluruh bentuk rezeki dan kehidupan yang tersimpan di bumi. Artinya, setiap benih tanaman, setiap embrio kehidupan, setiap unsur yang kelak menjadi bagian dari makanan manusia atau hewan, semuanya sudah berada dalam ilmu Allah sejak awal.
Selain itu, sebagian ahli hikmah memandang bahwa ayat ini ingin mengajarkan kepasrahan manusia kepada Allah. Sebab, sebagaimana kita tidak mengetahui berapa banyak biji yang ada dalam kegelapan bumi, kita pun tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang tersembunyi dalam masa depan kita. Manusia hanya bisa berusaha, sementara hasil dan ketetapannya tetap berada dalam genggaman Allah.
وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ
Kata wala (وَلَا) artinya : dan tidak. Kata rathbin (رَطْبٍ) artinya : sesuatu yang basah, menunjuk makhluk hidup yang lembab atau segar. Kata wala (وَلَا) artinya : dan tidak. Kata yaabisin (يَابِسٍ) artinya : sesuatu yang kering, lawan dari rathb.
Allah mengetahui segala sesuatu yang basah di muka bumi, seperti air, tumbuhan hijau, darah, dan segala bentuk cairan. Begitu juga Allah mengetahui segala sesuatu yang kering, seperti tanah tandus, kayu mati, atau biji yang kehilangan daya tumbuh. Semua itu menunjukkan cakupan ilmu Allah terhadap fenomena alam yang paling detail.
An-Naqqasy meriwayatkan dari Ja‘far bin Muhammad bahwa yang dimaksud yang basah maksudnya adalah manusia yang hidup, sedangkan yang kering maksudnya adalah manusia yang sudah mati.
Ada juga yang melihat ungkapan ini sebagai isyarat kepada amal perbuatan manusia. Amal yang “basah” diibaratkan amal yang hidup, yakni amal saleh yang diterima Allah dan berbuah pahala. Sedangkan amal yang “kering” adalah amal yang kosong dari keikhlasan, layu, dan tidak bernilai di sisi-Nya.
إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Kata illaa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata fii (فِي) artinya : di dalam. Kata kitaabin (كِتَابٍ) artinya : kitab. Ia ism mufrad nakirah, menunjuk catatan tertulis. Kata mubiin (مُبِينٍ) artinya : yang jelas.
Penggalan ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang disebut sebelumnya, yaitu daun yang jatuh, biji yang tersembunyi dalam kegelapan bumi, juga segala yang basah maupun kering, semuanya tercatat rapi di dalam suatu catatan agung yang disebut oleh Al-Qur’an sebagai kitabin mubin (كِتَابٍ مُبِينٍ).
Pertanyaannya kemudian adalah apa itu kitabin mubin ? Para mufassir memiliki beberapa penjelasan:
Lauh al-Mahfuzh : Mayoritas ulama tafsir seperti Ibn Katsir dan Al-Qurhubi menafsirkan Lauhil-mahfuzh, yakni kitab catatan agung yang berada di sisi Allah, tempat seluruh takdir dan ketentuan Allah sejak awal penciptaan hingga hari kiamat telah ditulis. Tidak ada satu detail pun yang luput darinya.
Ilmu Allah SWT : Fakhruddīn Ar-Razi mengatakan ilmu Allah yang sempurna, yang mencakup segala hal tanpa batas. Kitab di sini dipahami secara majazi, yaitu bukan lembaran fisik, melainkan kiasan untuk pengetahuan Allah yang menyeluruh.
Al-Qur’an : ada juga yang menafsirkannya sebagai Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat penjelasan tentang segala sesuatu yang menjadi kebutuhan manusia dalam petunjuk hidup, halal-haram, dan jalan menuju Allah. Namun, tafsiran ini lebih jarang dipilih dalam konteks ayat ini.