Rumah Fiqih Indonesia
Al-A'raf 7 : 168
Tafsir Al-Mahfuzh Jilid 18 Juz 9 [7] Al-A'raf : 168 (وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ)
[7] AL-A'RAF : 168

وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Kemenag RI 2019

Kami membagi mereka di bumi ini menjadi beberapa golongan. Di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada (pula) yang tidak. Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan agar mereka kembali (pada kebenaran).

Prof. Quraish Shihab

Dan Kami cerai-beraikan dan pencarkan mereka (orang-orang Yahudi) di bumi ini (menjadi) beberapa golongan; di antara mereka ada orang-orang yang saleh dan di antara mereka ada (juga) yang tidak demikian. Dan Kami telah (dan pasti akan) menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan (juga dengan) keburukan-keburukan, supaya mereka kembali (kepada kebenaran).

Prof. HAMKA

Dan, Kami potong-potong mereka di bumi ini menjadi beberapa umat. Di antara mereka ada yang shalih dan ada (di antara mereka itu tidak demikian dan Kami coba mereka dengan berbagai kebaikan dan berbagai kejahatan, supaya mereka kembali.

TAFSIR AL-MAHFUZH

Lihat Referensi Kitab →
...

وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا

Kami membagi mereka (Bani Israil) menjadi dua belas suku yang tiap-tiap mereka berjumlah besar.

Namun pembagian di ayat ini nampaknya lebih menekannya kelompok orang-orang yang saleh dan kelompok yang tidak shaleh.

Allah SWT juga menegaskan bahwa mereka diuji dengan berbagai jenis ujian, baik dalam bentuk kebaikan atau pun ujian dalam bentuk keburukan. Tujuannya tentu agar mereka kembali pada kebenaran.

وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا

Makna wa qatha‘na hum (وَقَطَّعْنَاهُمْ) adalah: dan Kami cerai-beraikan mereka. Makna fil-ardhi (فِي الْأَرْضِ) adalah: di bumi. Makna umaman (أُمَمًا) adalah: menjadi beberapa umat.

Penggalan ayat ini mengandung informasi sejarah yang sangat penting tentang perjalanan panjang Bani Israil. Allah SWT tidak mengatakan bahwa mereka dihancurkan atau dimusnahkan, melainkan "Kami cerai-beraikan mereka di muka bumi". Ini menunjukkan bahwa salah satu konsekuensi yang mereka alami adalah kehilangan pusat kehidupan yang menyatukan mereka sehingga terpaksa hidup terpencar di berbagai wilayah dunia.

Fenomena ini dalam istilah modern sering disebut sebagai diaspora, yaitu tersebarnya suatu bangsa ke berbagai negeri jauh dari tanah asal mereka. Sepanjang sejarah, Bani Israil memang mengalami beberapa gelombang perpindahan besar-besaran. Sebagian terjadi akibat peperangan, penaklukan, pengusiran, pembuangan, maupun tekanan politik yang mereka alami dari berbagai kekuatan yang menguasai wilayah mereka. Akibatnya, mereka tidak lagi hidup terkonsentrasi di satu kawasan, melainkan menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Menariknya, Al-Qur'an menyebut peristiwa ini bukan sebagai kebetulan sejarah, melainkan sebagai bagian dari kehendak dan ketetapan Allah SWT. Kata  wa qatha‘na hum (وَقَطَّعْنَاهُمْ) menunjukkan adanya campur tangan dan kekuasaan Allah dalam proses penyebaran tersebut. Dengan kata lain, diaspora yang dialami Bani Israil dipandang Al-Qur'an sebagai bagian dari perjalanan sejarah yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT.

Dari sisi sosial dan politik, sebuah bangsa yang tercerai-berai ke berbagai negeri biasanya kehilangan banyak unsur yang menjadi sumber kekuatannya. Bahasa mulai beragam, budaya mengalami percampuran, kepemimpinan menjadi tidak terpusat, dan identitas kolektif menghadapi tantangan yang tidak ringan. Karena itu, penyebaran ke berbagai wilayah sering dipandang sebagai salah satu bentuk ujian besar bagi keberlangsungan suatu bangsa.

Maka pesan pertama yang dapat ditangkap dari penggalan ayat ini adalah bahwa Bani Israil mengalami fase diaspora yang panjang dalam sejarah mereka. Mereka tidak lagi hidup sebagai satu komunitas yang terkumpul di satu wilayah, tetapi tersebar ke berbagai negeri di muka bumi. Adapun bagaimana keadaan mereka setelah tersebar itu, apakah tetap bersatu atau justru terpecah menjadi kelompok-kelompok yang berbeda, akan dijelaskan pada lanjutan ayat berikutnya.

Pesan kedua yang dapat dipahami dari penggalan ayat ini adalah bahwa setelah tercerai-berai ke berbagai penjuru bumi, Bani Israil tidak lagi tampil sebagai satu kesatuan yang utuh. Karena itulah Al-Qur'an tidak hanya mengatakan bahwa mereka disebarkan ke berbagai wilayah, tetapi juga menyebut mereka sebagai umama umaman (أُمَمًا) yaitu berbagai umat, kelompok, atau komunitas.

Pilihan kata ini menarik untuk diperhatikan. Allah SWT tidak menggunakan bentuk tunggal yang menunjukkan satu bangsa yang solid dan terpusat, melainkan bentuk jamak yang menggambarkan adanya banyak kelompok dengan keadaan yang berbeda-beda. Seolah-olah setelah kehilangan pusat pemersatu mereka, Bani Israil berkembang menjadi komunitas-komunitas yang tersebar dengan karakter, orientasi, dan kondisi yang tidak selalu sama.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa di berbagai wilayah tempat mereka bermukim, lahir beragam kelompok, aliran, dan komunitas Yahudi dengan tradisi yang berbeda-beda. Sebagian hidup di kawasan Timur Tengah, sebagian di Afrika Utara, sebagian di Eropa, dan sebagian lagi di wilayah-wilayah lain. Perbedaan lingkungan, bahasa, budaya, dan pengalaman sejarah membuat mereka tidak selalu memiliki wajah yang sama.

Dari sudut pandang yang lebih luas, ayat ini juga mengandung pelajaran bahwa persatuan bukanlah sesuatu yang otomatis bertahan selamanya. Sebuah bangsa yang kehilangan pegangan bersama, visi yang sama, dan ikatan yang kuat dapat berubah menjadi kelompok-kelompok yang berjalan dengan arah masing-masing. Karena itu, setelah menyebut penyebaran mereka ke berbagai negeri, Al-Qur'an langsung mengisyaratkan kenyataan bahwa mereka kemudian hadir dalam bentuk komunitas-komunitas yang beragam. Nabi SAW bersabda:

«افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً»

“Orang-orang Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Orang-orang Nasrani juga telah terpecah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.”(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)

Hadits ini menunjukkan bahwa perpecahan internal merupakan salah satu fenomena yang pernah terjadi dalam perjalanan sejarah Bani Israil. Karena itu, ketika Al-Qur'an menyebut bahwa Allah SWT mencerai-beraikan mereka di muka bumi menjadi berbagai umat dan kelompok, hal tersebut tidak hanya menunjukkan penyebaran geografis, tetapi juga mengisyaratkan munculnya beragam komunitas, mazhab, dan aliran di tengah mereka.

Dalam perkembangan sejarahnya, kelompok-kelompok Yahudi memang mengalami perubahan yang sangat panjang. Sebagian sekte kuno telah punah, sementara sebagian lainnya bertahan hingga sekarang dalam bentuk yang berbeda. Pada masa Nabi Isa dikenal kelompok Farisi (Pharisees), Saduki (Sadducees), Eseni (Essenes), dan Zelot (Zealots). Masing-masing memiliki pandangan keagamaan dan sikap politik yang berbeda-beda.

Adapun pada zaman modern, pembagian Yahudi lebih sering didasarkan pada latar belakang sejarah dan budaya daripada sekadar aliran teologis. Di antara yang paling dikenal adalah Yahudi Ashkenazi yang berasal dari kawasan Eropa Tengah dan Timur, Yahudi Sephardi yang berasal dari keturunan Yahudi Andalusia dan wilayah Mediterania, serta Yahudi Mizrahi yang berasal dari Timur Tengah dan negeri-negeri Arab. Selain itu dikenal pula komunitas Beta Israel di Ethiopia, Bene Israel di India, serta berbagai komunitas Yahudi lainnya yang tersebar di banyak negara.

Di bidang keagamaan, masyarakat Yahudi modern juga terbagi ke dalam beberapa arus besar. Ada Yahudi Ortodoks yang berusaha mempertahankan tradisi lama secara ketat, Yahudi Konservatif yang mengambil posisi lebih moderat, dan Yahudi Reform yang lebih longgar dalam memahami hukum-hukum agama.

Perbedaan-perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan panjang diaspora yang dialami Bani Israil tidak hanya membuat mereka tersebar ke berbagai negeri, tetapi juga melahirkan keragaman identitas, budaya, dan pemahaman keagamaan yang cukup luas.

مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ

Makna minhum (مِنْهُمْ) adalah: di antara mereka. Makna ash-shalihuna (الصَّالِحُونَ) adalah: orang-orang yang saleh.

Disini Allah SWT menegaskan bahwa Bani Israil itu sangat manusiawi, tidak selalu baik tapi juga tidak selalu jahat. Di dalam ras mereka terdapat orang-orang yang saleh, beriman, dan istiqamah dalam menaati perintah Allah SWT. Meskipun sebelumnya Allah SWT menyebut berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian Bani Israil, namun pada ayat ini ditegaskan bahwa tidak semuanya berada dalam keadaan yang sama.

Kelompok yang paling utama dari kalangan orang-orang saleh Bani Israil tentu adalah para nabi dan rasul yang diutus Allah SWT kepada mereka. Bahkan jika kita memperhatikan kisah-kisah para nabi dalam Al-Qur'an, sebagian besar tokoh yang diceritakan berasal dari keturunan Bani Israil. Di antaranya adalah Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Yusya' bin Nun, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Ilyas, Nabi Al-Yasa', Nabi Yunus, Nabi Zakariya, Nabi Yahya, dan juga Nabi Isa ’alaihimussalam. Mereka adalah hamba-hamba pilihan yang menjadi teladan dalam keimanan, kesabaran, perjuangan, dan pengabdian kepada Allah SWT.

Selain para nabi, terdapat pula banyak tokoh saleh dari kalangan Bani Israil yang meskipun bukan nabi, namun tetap memperoleh kedudukan mulia karena keimanan dan ketakwaannya. Al-Qur'an mengabadikan kisah Thalut sebagai pemimpin yang dipilih Allah SWT untuk memimpin Bani Israil menghadapi Jalut.

Al-Qur'an juga menceritakan para pengikut setia Nabi Musa yang tetap beriman ketika mayoritas kaumnya membangkang. Di antara mereka terdapat Yusya' bin Nun yang menurut banyak ulama kemudian diangkat menjadi nabi setelah Musa. Ada pula sosok Mukmin dari keluarga Fir'aun yang menyembunyikan imannya dan membela Nabi Musa di hadapan penguasa yang zalim. Demikian pula para ulama, ahli ibadah, dan orang-orang saleh dari kalangan mereka yang tetap menjaga ajaran para nabi sepanjang masa.

Ketika Nabi Muhammad SAW diutus, masih terdapat sejumlah tokoh Bani Israil yang termasuk ke dalam kelompok orang-orang saleh karena menerima kebenaran yang dibawa beliau. Di antara yang paling terkenal adalah Abdullah bin Salam, seorang ulama Yahudi terkemuka di Madinah yang segera mengenali tanda-tanda kenabian Muhammad SAW dan masuk Islam.

Selain beliau terdapat Mukhairiq, seorang pemuka Yahudi yang membela Nabi SAW pada Perang Uhud dan gugur dalam peperangan tersebut. Al-Qur'an juga memberikan pujian kepada sebagian Ahlul Kitab yang jujur, beriman, membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, serta tunduk kepada kebenaran ketika mereka mengenalnya.

Karena itu, penggalan ini merupakan pengingat bahwa sejarah Bani Israil tidak hanya berisi kisah pembangkangan dan penyimpangan. Dari kalangan mereka lahir banyak nabi, rasul, ulama, pemimpin yang adil, dan orang-orang saleh yang menjadi teladan bagi umat manusia. Mereka adalah bukti bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh asal-usul bangsanya, melainkan oleh iman, ketakwaan, dan ketaatannya kepada Allah SWT.

وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ

Makna wa minhum (وَمِنْهُمْ) adalah: dan di antara mereka. Makna duna (دُونَ) adalah: selain atau bukan. Makna dzalika (ذَٰلِكَ) adalah: yang demikian itu.

Al-Qur'an berkali-kali menunjukkan bahwa hampir setiap nabi yang diutus kepada mereka selalu menghadapi penentangan dari sebagian kaumnya sendiri. Nabi Musa ditentang, Nabi Harun ditinggalkan saat mereka menyembah anak sapi, Nabi Zakariya dan Nabi Yahya  dibunuh, Nabi Isa didustakan dan hendak dibunuh, bahkan ketika Nabi Muhammad SAW datang, banyak ulama Yahudi yang mengetahui kebenaran beliau tetapi menolaknya.

Berikut beberapa bentuk penyimpangan yang paling sering disebutkan Al-Qur'an tentang kelompok Bani Israil yang tidak saleh:

1. Menyembunyikan Kebenaran yang Diturunkan Allah

Salah satu dosa terbesar mereka adalah menyembunyikan ayat-ayat Allah dan keterangan yang sebenarnya telah mereka ketahui.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk..." (Al-Baqarah: 159)

Padahal mereka mengetahui isi kitab mereka dan mengenal kebenaran sebagaimana mengenal anak-anak mereka sendiri.

2. Menjual Ayat Allah dengan Harga Murah

Mereka menjadikan agama sebagai alat untuk memperoleh keuntungan duniawi.

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا

"Janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit." (Al-Baqarah: 41)

Karena kepentingan kedudukan, pengaruh, dan harta, mereka rela mengorbankan kebenaran.

3. Mengubah dan Memalsukan Isi Kitab

Sebagian mereka melakukan tahrif, yaitu mengubah makna atau redaksi kitab suci yang telah diturunkan.

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. (An-Nisa': 46)

Penyimpangan ini menyebabkan manusia jauh dari ajaran yang sebenarnya.

4. Mendustakan Para Nabi

Setiap kali datang seorang nabi membawa ajaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, sebagian memilih mendustakannya.

أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ

Apakah setiap datang kepada kalian seorang rasul dengan membawa apa yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, lalu kalian menyombongkan diri? (Al-Baqarah: 87)

5. Membunuh Para Nabi

Ini merupakan salah satu dosa yang paling sering disebut dalam Al-Qur'an.

﴿وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ﴾

Dan mereka membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. (Al-Baqarah: 61)

Nabi Zakariya AS dan Nabi Yahya AS termasuk yang disebut para ulama sebagai korban kezaliman mereka.

6. Menolak Beriman Setelah Mengetahui Kebenaran

Mereka sebenarnya mengenal ciri-ciri Nabi Muhammad SAW dalam kitab mereka, tetapi sebagian tetap menolak karena kesombongan.

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ

Maka ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka malah mengingkarinya." (Al-Baqarah: 89)

Penolakan ini bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau menerima.

7. Menyembah Anak Sapi

Ketika Nabi Musa AS pergi menerima wahyu, sebagian mereka justru menyembah patung anak sapi.

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا

Kaum Musa menjadikan dari perhiasan mereka seekor anak sapi yang bertubuh. (Al-A'raf: 148)

Ini menjadi simbol penyimpangan besar dari tauhid.

8. Melanggar Perjanjian dengan Allah

Mereka berkali-kali membuat perjanjian lalu mengingkarinya.

وَكَانُوا يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ

"Dan mereka melanggar perjanjian Allah setelah diteguhkan." (Al-Baqarah: 27)

Padahal mereka telah berulang kali berjanji untuk taat.

9. Membangkang dan Tidak Mau Taat kepada Nabi

Ketika diperintahkan memasuki tanah suci bersama Nabi Musa AS, mereka menolak.

فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

Maka pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua, kami akan tetap duduk di sini." (Al-Ma'idah: 24)

Ucapan ini menjadi salah satu contoh pembangkangan yang sangat terkenal dalam sejarah mereka.

10. Mencintai Dunia dan Mengabaikan Akhirat

Sebagian mereka sangat rakus terhadap kehidupan dunia sehingga rela mengorbankan prinsip-prinsip agama.

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ

"Sungguh engkau akan mendapati mereka sebagai manusia yang paling tamak terhadap kehidupan." (Al-Baqarah: 96)

Kecintaan yang berlebihan kepada dunia sering menjadi akar dari berbagai penyimpangan lainnya.

Kesepuluh sifat ini tidak berlaku untuk seluruh Bani Israil, karena Al-Qur'an sendiri telah menegaskan sebelumnya bahwa di antara mereka ada orang-orang yang saleh. Namun ayat ﴿وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ﴾ menunjukkan bahwa selain kelompok yang saleh itu, terdapat pula kelompok lain yang melakukan berbagai penyimpangan, bahkan sampai menentang para nabi yang diutus dari kalangan mereka sendiri.

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ

Makna wa balawna-hum (وَبَلَوْنَاهُمْ) adalah: dan Kami menguji mereka. Makna bil-hasanati (بِالْحَسَنَاتِ) adalah: dengan kebaikan atau kenikmatan. Kata ini merupakan bentuk jamak dari hasanah, yang merujuk pada segala sesuatu yang menyenangkan.

Ujian yang Allah SWT berikan kepada Bani Israil adalah ujian berupa al-hasanat, yaitu berbagai kenikmatan, kemudahan, dan kelebihan yang mereka peroleh. Sebab tidak semua ujian berbentuk kesulitan, kelapangan hidup, kekuasaan, ilmu, dan berbagai karunia justru merupakan ujian yang lebih berat daripada penderitaan. Karena itu Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan Bani Israil agar tidak melupakan nikmat-nikmat besar yang telah Allah SWT anugerahkan kepada mereka.

Di antara ayat yang paling sering mengingatkan mereka adalah firman Allah SWT:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ

Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian. (Al-Baqarah: 40)

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

"Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, dan bahwa Aku telah melebihkan kalian atas seluruh umat pada masa itu." (Al-Baqarah: 47)

Khusus di masa nabi Musa alaihissalam, kenikmatan yang Allah SWT anugerahkan kepada mereka dirinci dengan detail di dalam Al-Quran, yaitu :

Pertama, Allah SWT menyelamatkan mereka dari penindasan Fir'aun yang selama bertahun-tahun membunuh anak-anak laki-laki mereka dan memperbudak kaum wanita mereka.

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ

"Kami telah menyelamatkan kalian dari kaum Fir'aun." (Al-Baqarah: 49)

Kedua, Allah SWT membelah Laut Merah sehingga mereka dapat menyeberang dengan selamat, sementara Fir'aun dan bala tentaranya ditenggelamkan di hadapan mata mereka.

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ

"Dan ketika Kami membelah laut untuk kalian." (Al-Baqarah: 50)

Ketiga, Allah SWT mengangkat Nabi Musa AS sebagai rasul yang membimbing mereka serta berbicara langsung dengan beliau.

Keempat, Allah SWT menurunkan Taurat sebagai kitab suci dan pedoman hidup bagi mereka.

وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ

 

"Dan ketika Kami memberikan Kitab kepada Musa." (Al-Baqarah: 53)

Kelima, Allah SWT tetap menerima tobat mereka setelah mereka terjerumus ke dalam penyembahan anak sapi.

Keenam, Allah SWT menaungi mereka dengan awan ketika mereka berada di padang pasir yang panas.

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ

"Dan Kami menaungi kalian dengan awan." (Al-Baqarah: 57)

Ketujuh, Allah SWT menurunkan makanan istimewa berupa manna dan salwa tanpa mereka harus bercocok tanam atau berdagang.

وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى

"Dan Kami menurunkan kepada kalian manna dan salwa." (Al-Baqarah: 57)

Kedelapan, Allah SWT memancarkan dua belas mata air dari sebuah batu sehingga setiap kabilah memperoleh sumber airnya sendiri.

فَانْبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا

"Maka memancarlah darinya dua belas mata air." (Al-A'raf: 160)

Di luar kisah umat Musa, masih ada banyak kenikmatan yang Allah SWT anugerahkan kepada mereka, misalnya :

1. Punya Banyak Nabi dan Rasul

Allah SWT mengangkat banyak nabi dan rasul dari kalangan mereka sendiri, suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh banyak bangsa lain.

وَجَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ

Dan Dia menjadikan di antara kalian para nabi. (Al-Ma'idah: 20)

Tidak ada bangsa yang diberi anugerah punya nabi dan rasul sebanyak Bani Israil. Bahkan bangsa Arab hanya punya beberapa orang saja, yaitu Nabi Hud yang diutus kepada kaum 'Ad serta Nabi Shalih yang diutus kepada kaum Tsamud.

Adapun Nabi Ismail sendiri memang menetap di Makkah dan menjadi leluhur bangsa Arab Musta'ribah, namun kita semua tahu ayahanda beliau yaitu Nabi Ibrahim dan ibunda beliau Hajar, pastinya bukan penduduk asli gurun pasir Arabia. Keduanya berasal dari negeri yang berbeda. Ibrahim dari Mesopotamia, sedangkan Ibunda Hajar dari Mesir.

Maka yang dianggap benar-benar orang Arab hanya Nabi Hud dan Nabi Shalih saja. Itu pun Arab di zaman sebelum Arab berikutnya. Dalam literatur sejarah Arab klasik, kaum Nabi Hud AS dan Nabi Shalih AS biasanya digolongkan ke dalam Arab Ba'idah (العرب البائدة), yaitu bangsa Arab kuno yang telah punah.

Para ahli nasab Arab umumnya membagi bangsa Arab menjadi tiga kelompok:

§  Arab Ba'idah (العرب البائدة), yaitu bangsa Arab purba yang telah lenyap dan tidak memiliki keturunan yang diketahui secara pasti hingga sekarang. Termasuk di dalamnya kaum 'Ad (kaum Nabi Hud), Tsamud (kaum Nabi Shalih ), Thasm, Jadis, 'Amaliq, dan beberapa bangsa Arab kuno lainnya.

§  Arab 'Aribah (العرب العاربة), yaitu Arab asli atau Arab murni yang berasal dari keturunan Qahtan di Yaman. Dari kelompok inilah lahir berbagai suku besar Arab Selatan.

§  Arab Musta'ribah (العرب المستعربة), yaitu Arab yang "terarabkan", yakni keturunan Nabi Ismail . Nabi Ismail sendiri bukan berasal dari bangsa Arab, tetapi setelah tinggal di Makkah beliau belajar bahasa Arab dari kabilah Jurhum dan keturunannya kemudian menjadi nenek moyang bangsa Arab Utara, termasuk suku Quraisy tempat Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

Sedangkan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup seluruh nabi dan rasul, meski keturunan dari Nabi Ibrahim, namun sudah disebut Arab karena rentang waktunya lebih dari 2.600 tahun.

2. Menjadi Raja dan Pemimpin

Allah SWT juga pernah mengangkat sebagian mereka menjadi raja dan pemimpin, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran :

وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا

"Dan Dia menjadikan kalian sebagai raja-raja." (Al-Ma'idah: 20)

Sebagian ulama memahaminya secara harfiah, yaitu Allah SWT benar-benar menjadikan di antara Bani Israil banyak raja dan penguasa. Contoh yang paling terkenal adalah:

§  Nabi Yusuf, yang menjadi pejabat tertinggi Mesir dan mengendalikan urusan perbendaharaan negara.

§  Nabi Dawud, yang Allah berikan kerajaan yang besar di Bani Israil.

§  Nabi Sulaiman, yang memiliki kerajaan sangat luas dan belum pernah diberikan kepada siapa pun setelahnya.

§  Thalut (Saul), yang diangkat Allah sebagai raja Bani Israil ketika menghadapi Jalut.

§  Para raja Bani Israil setelah Dawud dan Sulaiman, meskipun kualitas mereka berbeda-beda.

3. Yang Memiliki Kitab Suci

Allah SWT memberikan kepada mereka berbagai karunia yang belum pernah diberikan kepada banyak umat lain pada masa mereka, sebagai ahlu kitab, yaitu bangsa yang dipercaya menerima kitab suci samawi.

﴿وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾

Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) dan Al-Furqan agar kamu mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 53)

Selain Taurat, Allah SWT juga berfirman tentang Nabi Isa :

وَقَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ

Dan Kami iringkan jejak mereka dengan Isa putra Maryam, membenarkan Taurat yang ada sebelumnya, dan Kami berikan kepadanya Injil yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. (Al-Ma'idah: 46)

Allah juga turunkan kitab suci yang lain yaitu Zabur kepada Nabi Daud yang juga masih bagian dari Bani Israil

وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

Dan Kami telah memberikan Zabur kepada Dawud. (An-Nisa': 163)

وَالسَّيِّئَاتِ

Makna was-sayyi’ati (وَالسَّيِّئَاتِ) adalah: dan keburukan atau musibah. Kata ini merupakan bentuk jamak dari sayyi'ah, yang merujuk pada segala sesuatu yang tidak menyenangkan seperti kesulitan, kesempitan, atau musibah hidup.

Di antara musibah yang paling awal adalah penindasan yang mereka alami di bawah kekuasaan Fir'aun. Anak-anak laki-laki mereka dibunuh, kaum wanitanya dibiarkan hidup untuk dijadikan pelayan, dan mereka hidup dalam perbudakan selama bertahun-tahun.

يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ

Mereka menyembelih anak-anak laki-laki kalian dan membiarkan hidup perempuan-perempuan kalian. (Al-Baqarah: 49)

Setelah diselamatkan dari Fir'aun, mereka masih harus menjalani hukuman tersesat di Padang Tih selama empat puluh tahun akibat penolakan mereka untuk memasuki tanah suci yang diperintahkan Allah SWT.

فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ

Sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan berkelana kebingungan di bumi." (Al-Ma'idah: 26)

Sebagian dari mereka juga pernah ditimpa azab akibat penyembahan anak sapi. Allah SWT memerintahkan mereka untuk bertobat dengan cara yang sangat berat sebagai bentuk penebusan atas kesalahan mereka.

Mereka juga pernah ditimpa berbagai hukuman akibat pelanggaran terhadap perintah Allah SWT, seperti peristiwa para pelanggar Sabat yang dikutuk menjadi kera yang hina.

كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Jadilah kalian kera-kera yang hina. (Al-A'raf: 166)

Dalam sejarah berikutnya, mereka mengalami berbagai kekalahan dan penaklukan oleh bangsa-bangsa lain.

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ

Dan ditimpakan kepada mereka kehinaan dan kemiskinan. (Al-Baqarah: 61)

Kerajaan mereka dihancurkan, Baitul Maqdis diruntuhkan, dan banyak dari mereka dibawa ke pembuangan. Sebagian mufassir mengaitkan hal ini dengan serangan Nebukadnezar dari Babilonia yang menghancurkan Yerusalem dan mengasingkan penduduknya.

Allah SWT juga menimpakan kepada mereka kehinaan dan kemiskinan sebagai konsekuensi dari berbagai pelanggaran yang mereka lakukan.

Pada ayat lain Allah SWT menjelaskan bahwa mereka akan terus berada dalam keadaan menghadapi tekanan dan hukuman sejarah hingga Hari Kiamat.

لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ

Sungguh Dia akan mengirim kepada mereka hingga Hari Kiamat orang-orang yang menimpakan kepada mereka azab yang buruk." (Al-A'raf: 167)

Holocaust : Yahudi vs Nazi Hitler

Pada tahun 1933, seorang tokoh bernama Adolf Hitler naik ke tampuk kekuasaan di Jerman. Ia memimpin rezim Partai Nazi yang mengembangkan ideologi rasis dan menganggap bangsa Arya lebih unggul daripada bangsa-bangsa lain. Dalam pandangan rezim tersebut, orang-orang Yahudi diperlakukan sebagai kelompok yang harus disingkirkan dari kehidupan masyarakat.

Sejak saat itu berbagai kebijakan diskriminatif mulai diberlakukan. Orang-orang Yahudi kehilangan banyak hak sipil, dikeluarkan dari berbagai profesi, dibatasi aktivitas ekonominya, dan dipisahkan dari masyarakat umum.

Keadaan semakin memburuk ketika Perang Dunia II pecah. Jutaan orang Yahudi dari berbagai negara Eropa ditangkap, dipindahkan ke kamp-kamp konsentrasi, dipaksa bekerja dalam kondisi yang sangat berat, mengalami kelaparan, penyakit, penyiksaan, dan pembunuhan massal.

Peristiwa ini kemudian dikenal dengan nama Holocaust. Menurut penelitian sejarah yang umum diterima, sekitar enam juta orang Yahudi terbunuh selama masa tersebut. Selain korban jiwa yang sangat besar, jutaan lainnya kehilangan keluarga, rumah, harta benda, dan kehidupan yang telah mereka bangun selama berabad-abad di berbagai negara Eropa.

Bagi banyak orang Yahudi, Holocaust menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah bangsa mereka. Peristiwa itu meninggalkan luka yang sangat dalam dan hingga hari ini masih menjadi bagian penting dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat Yahudi di berbagai belahan dunia.

Besarnya penderitaan yang dialami bangsa Yahudi pada masa Holocaust juga membantu menjelaskan mengapa peristiwa tersebut masih sangat hidup dalam ingatan kolektif mereka hingga hari ini. Bagi banyak bangsa, tragedi sejarah mungkin hanya menjadi catatan dalam buku pelajaran. Namun bagi masyarakat Yahudi, Holocaust dipandang sebagai luka peradaban yang dampaknya masih dirasakan lintas generasi. Hampir setiap keluarga Yahudi di Eropa pada masa itu kehilangan kerabat, sahabat, atau anggota keluarganya akibat perang, kamp konsentrasi, dan pembantaian massal yang dilakukan rezim Nazi.

Karena itu tidak mengherankan jika setelah berakhirnya Perang Dunia II, kisah Holocaust terus diceritakan kembali melalui buku, museum, pendidikan, dokumenter, dan film. Tujuannya bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga untuk memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang kembali. Dalam banyak karya budaya populer, termasuk film-film Hollywood, rezim Nazi dan Adolf Hitler hampir selalu digambarkan sebagai simbol kejahatan, rasisme, dan penindasan. Gambaran tersebut muncul karena dalam pandangan umum dunia Barat, Nazi memang bertanggung jawab atas salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern.

Akibatnya, beberapa generasi setelah perang pun masih tumbuh dengan narasi yang kuat tentang bahaya ideologi Nazi. Banyak film mengangkat kisah korban-korban Yahudi, perjuangan mereka untuk bertahan hidup, penderitaan di kamp-kamp konsentrasi, serta kekejaman yang mereka alami. Melalui film-film tersebut, memori tentang Holocaust terus diwariskan kepada generasi yang tidak pernah mengalami peristiwa itu secara langsung.

Dalam sudut pandang sejarah sosial, hal ini menunjukkan bahwa luka kolektif suatu bangsa dapat bertahan jauh lebih lama daripada peristiwa itu sendiri. Sebuah tragedi mungkin berakhir dalam hitungan tahun, tetapi dampak psikologis, budaya, dan politiknya dapat bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun. Karena itu, ketika membahas sejarah bangsa Yahudi, Holocaust bukan hanya peristiwa masa lalu, melainkan bagian dari identitas sejarah yang masih memengaruhi cara mereka memandang dunia hingga hari ini.

لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Makna la‘allahum (لَعَلَّهُمْ) adalah: agar mereka. Kata la’alla (لَعَلَّ) di sini menunjukkan harapan atau tujuan dari ujian yang diberikan, yaitu agar hamba tersebut menyadari posisinya. Makna yarji‘una (يَرْجِعُونَ) adalah: kembali.

Maksudnya agar mereka kembali kepada ketaatan, kembali ke jalan yang lurus, atau kembali menyadari hakikat penghambaan diri kepada Allah SWT setelah sebelumnya lalai atau menjauh.

🔐 Login Admin