Rumah Fiqih Indonesia
Al-A'raf 7 : 191
Tafsir Al-Mahfuzh Jilid 18 Juz 9 [7] Al-A'raf : 191 (أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ)
[7] AL-A'RAF : 191

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

Kemenag RI 2019

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun, padahal ia (berhala) sendiri diciptakan?

Prof. Quraish Shihab

Apakah mereka menyekutukan apa yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun, sedangkan mereka (sekutu-sekutu itu) diciptakan oleh manusia?

Prof. HAMKA

Apakah mereka persekutukan apa-apa yang tidak menjadikan sesuatu padahal merekalah yang dijadikan?

TAFSIR AL-MAHFUZH

Lihat Referensi Kitab →
...

Ayat ke-191 dari surat Al-A’raf ini masih meneruskan celaan terhadap mereka yang menyekutukan Allah SWT pada ayat sebelumnya. Secara teknis ayat ini dalam bentuk pertanyaan. Namun pertanyaannya  bukan untuk meminta jawaban, melainkan untuk mencela dan membongkar ketidaklogisan perbuatan syirik.

Allah SWT mempertanyakan logika kaum musyrikin yang menyembah tuhan yang lain selain mereka juga menyembah Allah SWT. Sebab tuhan yang lain itu tidak pernah bisa menciptakan sesuatu, bahkan tuhan-tuhan itu diciptakan.

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا

Makna ayusyrikuuna (أَيُشْرِكُونَ) adalah: apakah mereka menyekutukan. Makna maa (مَا) adalah: dengan apa yang atau makhluk yang. Makna laa yakhluqu (لَا يَخْلُقُ) adalah: tidak dapat menciptakan. Makna syai'an (شَيْئًا) adalah: sesuatu pun.

Allah SWT tidak langsung membahas apakah berhala itu indah atau jelek, besar atau kecil, mahal atau murah. Yang dipersoalkan adalah satu hal yang paling mendasar: Apakah sesembahan itu mampu menciptakan?

Sebab hakikat ketuhanan dalam Al-Qur'an selalu terkait dengan kemampuan mencipta. Allah SWT adalah Tuhan karena Dia menciptakan langit, bumi, manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh alam semesta. Sedangkan berhala, patung, benda keramat, maupun makhluk yang disembah selain Allah SWT tidak menciptakan apa pun.

Bahkan untuk menciptakan seekor nyamuk saja mereka tidak mampu. Untuk menciptakan sehelai daun, setetes air, atau sebutir pasir pun mereka tidak sanggup. Mereka hanyalah makhluk yang keberadaannya sendiri bergantung kepada Allah SWT.

Karena itu ayat ini sebenarnya sedang mengajak manusia menggunakan akal sehat. Jika seseorang ingin menyembah suatu zat sebagai Tuhan, maka syarat paling dasar adalah bahwa zat itu harus menjadi pencipta. Adapun sesuatu yang tidak mampu menciptakan apa pun, bagaimana mungkin diangkat menjadi Tuhan?

وَهُمْ يُخْلَقُونَ

Makna wahum (وَهُمْ) adalah: padahal mereka atau sedangkan mereka. Makna yukhlaquuna (يُخْلَقُونَ) adalah: diciptakan.

Bagian in merupakan pukulan telak terhadap logika penyembahan berhala. Bukan hanya berhala-berhala itu tidak mampu menciptakan apa pun, bahkan keberadaan mereka sendiri merupakan hasil pekerjaan tangan manusia.

Dari berbagai riwayat sejarah Arab pra-Islam, diketahui bahwa berhala-berhala mereka dibuat dari beragam bahan seperti kayu, batu, emas, perak dan lainnya.

Yang paling sederhana adalah batu. Bahkan banyak suku Arab yang cukup mengambil sebuah batu besar lalu menjadikannya sesembahan. Al-Lat di Thaif pada asalnya berupa batu besar yang dikeramatkan. Manat juga dikaitkan dengan sebuah batu yang berada di pesisir antara Makkah dan Madinah.

Ada pula yang dibuat dari batu mulia. Berhala terbesar Quraisy, yaitu Hubal, menurut riwayat Ibnu Al-Kalbi, terbuat dari batu akik merah berbentuk manusia. Ketika tangan kanannya rusak, orang-orang Quraisy menggantinya dengan tangan dari emas.

Sebagian berhala dibuat dari kayu, lalu dipahat menyerupai manusia atau makhluk tertentu. Dalam literatur Arab kuno, patung semacam ini disebut ashnam (أصنام). tembaga, dan berbagai bahan lainnya.

Sebagian sesembahan bahkan tidak berupa patung sama sekali. Al-Uzza pada salah satu bentuk pemujaannya berkaitan dengan pohon-pohon yang dikeramatkan, sedangkan beberapa suku Arab menyembah batu, pohon, atau tempat tertentu yang dianggap suci.

Yang lebih menarik lagi, terdapat riwayat bahwa sebagian orang Arab ketika bepergian dan tidak menemukan berhala, mereka cukup mengumpulkan beberapa batu. Batu yang paling bagus dijadikan sesembahan, sedangkan batu lainnya dipakai sebagai tungku memasak. Ini menunjukkan betapa sederhana dan mudahnya proses "penciptaan tuhan" dalam tradisi jahiliyah.

Karena itu ketika Al-Qur'an mengatakan: (وَهُمْ يُخْلَقُونَ) maksudnya bukan hanya mereka adalah makhluk ciptaan Allah seperti manusia dan hewan. Lebih dari itu, banyak berhala tersebut secara harfiah dibuat, dipahat, dibentuk, dipindahkan, diperbaiki, bahkan dihias oleh manusia sendiri.

Ironinya sangat jelas. Tangan manusia memahat sebuah patung. Setelah selesai dipahat, manusia itu sendiri lalu bersujud di hadapan patung yang baru saja dibuatnya. Maka Al-Qur'an mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana: bagaimana mungkin sesuatu yang dibuat oleh manusia justru dianggap sebagai tuhan yang menciptakan manusia?

Inilah inti hujjah tauhid dalam ayat ini. Allah SWT adalah Al-Khaliq Sang Pencipta, sedangkan berhala-berhala itu adalah makhluk yang diciptakan, bahkan sebagian besar merupakan hasil pahatan tangan para penyembahnya sendiri. Karena itu tidak mungkin keduanya ditempatkan pada kedudukan yang sama.

🔐 Login Admin