Rumah Fiqih Indonesia
Al-A'raf 7 : 192
Tafsir Al-Mahfuzh Jilid 18 Juz 9 [7] Al-A'raf : 192 (وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ)
[7] AL-A'RAF : 192

وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

Kemenag RI 2019

(Berhala) itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada mereka (para penyembahnya) dan (bahkan) kepada dirinya sendiri pun ia tidak dapat memberi pertolongan.

Prof. Quraish Shihab

Dan mereka (sekutu-sekutu itu) tidak mampu memberi mereka (para penyembahnya) pertolongan, dan kepada diri mereka sendiri pun mereka tidak dapat menolong.

Prof. HAMKA

Dan, tidaklah mereka sanggup menolong mereka dan diri mereka sendiri pun tidak bisa mereka tolong?

TAFSIR AL-MAHFUZH

Lihat Referensi Kitab →
...

Setelah pada ayat sebelumnya Allah SWT menjelaskan bahwa berhala-berhala itu tidak mampu menciptakan apa pun, maka pada ayat ke-192 dari surat Al-A’raf ini Allah SWT menambahkan kelemahan yang lain, yaitu jangankan menciptakan alam semesta, bahkan untuk memberikan pertolongan kepada para penyembahnya sendiri pun mereka tidak mampu.

Lebih parah lagi berhala-berhala itu sendiri pun tidak bisa menolong diri mereka sendiri.

وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا

Makna wa laa yastathii'uuna (وَلَا يَسْتَطِيعُونَ) adalah: dan mereka tidak mampu atau tidak kuasa. Makna lahum (لَهُمْ) adalah: bagi mereka atau untuk memberi kepada mereka. Makna nashran (نَصْرًا) adalah: pertolongan.

Salah satu alasan utama manusia menyembah sesuatu adalah karena berharap memperoleh pertolongan darinya. Orang-orang musyrik Makkah datang kepada berhala mereka ketika menginginkan kemenangan, keselamatan perjalanan, hujan, keberuntungan dagang, keturunan, atau perlindungan dari musuh. Mereka mempersembahkan kurban, bernazar, dan berdoa di hadapan berhala dengan harapan berhala-berhala itu akan membantu mereka.

Namun Al-Qur'an membongkar ilusi tersebut. Berhala-berhala itu tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menolong. Mereka tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak dapat menolak mudarat. Mereka hanyalah benda mati yang tidak mendengar, tidak memahami, dan tidak memiliki kehendak.

Ironinya, sejarah mencatat bahwa ketika Makkah ditaklukkan oleh Nabi SAW pada peristiwa Fathu Mekkah, berhala-berhala yang selama puluhan tahun disembah itu dihancurkan satu demi satu. Ada yang dijatuhkan, ada yang dipukul hingga pecah, ada yang dibakar. Tidak satu pun mampu mempertahankan dirinya sendiri, apalagi mempertahankan para penyembahnya.

Karena itu ayat ini mengandung logika yang sangat sederhana. Sesuatu yang layak disembah setidaknya harus memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan kepada orang yang memohon kepadanya. Jika ia bahkan tidak mampu menolong para pengikutnya, bagaimana mungkin ia dianggap sebagai tuhan?

Al-Qur'an secara bertahap sedang menghancurkan fondasi syirik. Mula-mula disebutkan bahwa berhala tidak mampu menciptakan. Lalu disebutkan bahwa mereka sendiri adalah makhluk yang diciptakan. Kini ditegaskan bahwa mereka juga tidak mampu memberikan pertolongan kepada siapa pun. Dengan demikian, tidak tersisa satu pun sifat ketuhanan pada diri mereka yang dapat dijadikan alasan untuk disembah.

وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

Makna wa laa (وَلَا) adalah: dan tidak pula. Makna anfusahum (أَنْفُسَهُمْ) adalah: diri mereka sendiri. Makna yanshuruuna (يَنْصُرُونَ) adalah: mereka menolong.

Logikanya sangat sederhana. Jika seseorang tidak mampu menolong dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia menolong orang lain? Berhala-berhala yang disembah orang musyrik tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk melindungi dirinya. Ketika jatuh, ia tidak mampu berdiri sendiri. Ketika rusak, ia tidak mampu memperbaiki dirinya sendiri. Ketika dicuri, ia tidak mampu kembali ke tempatnya. Ketika dihancurkan, ia tidak mampu mempertahankan dirinya.

Menurut riwayat-riwayat sirah, di sekitar Ka'bah terdapat sekitar 360 berhala yang disembah oleh berbagai kabilah Arab. Ada yang besar, ada yang kecil. Sebagian terbuat dari batu, sebagian dari kayu, dan sebagian lagi dari bahan-bahan berharga. Berhala terbesar Quraisy adalah Hubal yang ditempatkan di dalam atau dekat Ka'bah.

Nabi SAW kemudian melakukan thawaf mengelilingi Ka'bah. Di tangan beliau terdapat tongkat atau busur. Setiap kali melewati sebuah berhala, beliau menunjuk atau memukulkannya sambil membaca firman Allah SWT:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Katakanlah: Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap. (QS. Al-Isra' : 81)

Berhala-berhala itu kemudian dijatuhkan satu demi satu. Sebagian roboh hanya dengan sentuhan tongkat Nabi SAW karena sebenarnya hanyalah patung-patung yang tidak memiliki kekuatan apa pun.

Di dalam Ka'bah sendiri masih terdapat berbagai gambar dan simbol peninggalan masa jahiliyah. Nabi SAW memerintahkan agar semuanya dihapus. Setelah itu beliau masuk ke dalam Ka'bah, bertakbir, melakukan shalat, dan membersihkannya dari seluruh unsur syirik.

Namun proses penghancuran berhala tidak berhenti di Makkah. Setelah Fathu Makkah, Nabi SAW mengirim para sahabat ke berbagai penjuru Jazirah Arab untuk menghancurkan pusat-pusat penyembahan berhala yang terkenal.

Khalid ibn al-Walid diutus untuk menghancurkan berhala Al-Uzza. Sa'd ibn Zayd al-Ashhali juga terlibat dalam penghancuran tempat pemujaan tersebut. Al-Mughirah ibn Shu'bah bersama Abu Sufyan ibn Harb diutus menghancurkan Al-Lat di Thaif. Sementara berhala Manat yang disembah oleh beberapa kabilah Arab dihancurkan oleh pasukan yang diutus Nabi SAW.

🔐 Login Admin