Rumah Fiqih Indonesia
Al-A'raf 7 : 193
Tafsir Al-Mahfuzh Jilid 18 Juz 9 [7] Al-A'raf : 193 (وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ لَا يَتَّبِعُوكُمْ ۚ)
[7] AL-A'RAF : 193

وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ لَا يَتَّبِعُوكُمْ ۚ سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ

Kemenag RI 2019

Jika kamu (orang-orang musyrik) menyeru mereka (berhala-berhala itu) untuk memberi petunjuk kepadamu, mereka tidak akan memenuhi seruanmu. Sama saja (hasilnya) buatmu, apakah kamu menyeru mereka atau berdiam diri.

Prof. Quraish Shihab

Dan jika kamu (orang-orang musyrik) menyeru mereka (sekutu-sekutu) kepada petunjuk, tidaklah mereka mengikuti kamu, sama saja bagi kamu apakah kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri.

Prof. HAMKA

Dan, jika kamu ajak mereka kepada petunjuk, tidaklah mereka mau menuruti kamu. Sama saja atas kamu, apakah kamu ajak mereka atau pun kamu berdiam diri.

TAFSIR AL-MAHFUZH

Lihat Referensi Kitab →
...

Ayat ke-193 dari surat Al-A’raf ini masih melanjutkan pembahasan tentang sesembahan selain Allah SWT. Kelemahan berhala yang ditunjukkan ayat ini adalah tidak bisa memberi petunjuk kepada mereka yang menyembahnya.

Minta petunjuk kepada berhala pastinya tidak akan mendapatkan jawaban, sebagaimana diam pun juga tidak bisa merespon. Jadi percuma saja menyembah benda-benda yang tidak bisa memberi petunjuk.

Allah SWT tidak hanya menafikan kemampuan berhala untuk memberi pertolongan, tetapi bahkan menafikan kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih sederhana, yaitu sekadar menunjukkan jalan menuju pertolongan.

Jika menunjukkan jalan saja tidak mampu, apalagi mewujudkan manfaat dan menolak mudarat. Ini merupakan hujjah yang sangat kuat untuk membatalkan keyakinan kaum musyrikin terhadap sesembahan mereka.

وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ لَا يَتَّبِعُوكُمْ

Makna wa in (وَإِنْ) adalah: dan jika. Kata tad'uuhum (تَدْعُوهُمْ) berasal dari akar kata (د ع و)  yang punya banyak makna tergantung konteksnya. Kadang maknanya memanggil, kadang bisa juga bermakna menyeru. Bisa juga digunakan untuk mengundang orang. Tidak salah juga ketika digunakan untuk makna mengajak. Termasuk bisa juga digunakan untuk berdoa atau memohon sesuatu. Nampaknya makna terakhir inilah yang lebih tepat untuk dipahami, sebagaimana firman Allah SWT di ayat lain.

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan kalian. (QS. Ghafir : 60)

Maka makna yang lebih tepat untuk penggalan ini adalah berdoa. Namun Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[1] menuliskan bahwa khithab dalam ayat ini ditujukan kepada orang-orang musyrik melalui gaya bahasa iltifat, yaitu peralihan siapa yang diajak bicara.

Kalau di ayat-ayat sebelumnya yang menjadi mukhathab alias yang diajak bicara adalah Nabi Muhammad SAW, maka di ayat ini lawan bicara dialihkan menjadi orang-orang musyrikin itu sendiri. Seolah-olah Allah SWT langsung bicara kepada mereka.

Maka ungkapan wa in tad’u-hum (وَإِنْ تَدْعُوهُمْ) harus kita pahami menjadi : wahai orang-orang musyrik jika kamu berdoa kepada mereka, yaitu minta kepada berhala-berhala itu.

Makna ilaa al-hudaa (إِلَى الْهُدَىٰ) adalah: kepada petunjuk. Ini yang dimintakan dalam doa, yaitu agar berhala-berhala itu bisa memberikan mereka berbagai petunjuk yang mereka butuhkan.

Maka disebutkan bahwa berhala itu laa yattabi'uukum (لَا يَتَّبِعُوكُمْ) yaitu mereka tidak akan mengikuti kamu. Maksudnya berhala-berhala itu tidak akan mampu mengabulkan doa dan permintaan mereka. Berhala yang benda mati diam tak bergerak itu jangankan memberi petunjuk, hidup saja pun tidak. Tidak bisa bicara dan tidak ada otaknya.

سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ

Makna sawaa'un (سَوَاءٌ) adalah: sama saja. Makna 'alaikum (عَلَيْكُمْ) adalah: bagi kamu atau atas kamu.

Ungkapan ini merupakan salah satu gaya bahasa yang sering digunakan Al-Qur'an untuk menunjukkan bahwa dua keadaan yang berbeda ternyata menghasilkan akibat yang sama.

Maksudnya, tidak ada perbedaan hasil antara dua tindakan tersebut. Kalian boleh berdoa kepada berhala-berhala itu siang dan malam, atau sama sekali tidak berbicara kepada mereka. Hasilnya tetap sama: mereka tidak akan menjawab, tidak akan mendengar, dan tidak akan memberikan manfaat sedikit pun.

Ayat ini merupakan puncak dari rangkaian hujjah yang telah dibangun sebelumnya. Mula-mula Allah SWT menjelaskan bahwa berhala tidak mampu menciptakan apa pun. Kemudian dijelaskan bahwa mereka sendiri adalah makhluk yang diciptakan. Lalu ditegaskan bahwa mereka tidak mampu menolong para penyembahnya, bahkan tidak mampu menolong diri mereka sendiri.

أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ

Makna ada'autumuuhum (أَدَعَوْتُمُوهُمْ) adalah: apakah kamu menyeru mereka. Makna am (أَمْ) adalah: ataukah. Makna antum (أَنْتُمْ) adalah: kamu. Makna shaamituuna (صَامِتُونَ) adalah: orang-orang yang diam atau berdiam diri.

Di balik kalimat yang singkat ini tersimpan sindiran yang sangat tajam. Orang musyrik menganggap berhala punya kekuatan gaib, mampu mendengar doa, dan mampu memberikan manfaat. Tetapi Allah SWT menunjukkan bahwa berhala itu bahkan tidak berbeda dengan batu biasa. Tidak ada pengaruh antara dipanggil dan tidak dipanggil.

Aayat ini sebenarnya sedang mengajak manusia berpikir dengan logika yang sangat sederhana.


[1] Al-Alusi (w. 1270 H), Ruh Al-Ma'ani, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1, 1415 H)

🔐 Login Admin