Kata fal-yanzhur (فَلْيَنْظُرِ) artinya : maka hendaklah melihat. Kata al-insanu (الْإِنْسَانُ) artinya : manusia.
Perintah ini cukup unik, karena merupakan perintah tetapi sifatnya tidak secara langsung. Karena yang namanya fi'il amr atau kata kerja yang bersifat perintah selalunya bersifat percakapan langsung kepada pihak yang diperintah. Sedangkan ungkapan ini adalah perintah yang diarahkan kepada pihak ketiga, yaitu dalam hal ini diarahkan kepada manusia, bukan kepada pihak kedua yang sedang diajak bercakap-cakap, yang dalam hal ini Nabi Muhammad SAW.
Maka tehnik penerjemahannya biasanya menggunakan kata : hendaklah. Namun pilihan kata ini bukan tanpa resiko, karena seringkali dipahami bukan sebagai perintah namun hanya sebagai himbauan.
Kata fal-yanzhur ( فَلْيَنْظُرِ) adalah bentuk perintah bukan untuk melihat secara fisik, melainkan bentuk imperatif untuk merenung, berpikir, membuat analisa, dan menarik kesimpulan. Maka perintah untuk 'melihat' tidak selalu bermakna secara fisik, tetapi secara refleksi mental dan spiritual.
Lalu pertanyaan berikutnya : apa kira-kira alasan perintah ini diarahkan kepada manusia?
Alasannya karena manusia sebagai makhluk yang diberi akal dan kesadaran. Allah menggunakan kata الْإِنْسَانُ (al-insān) karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu merenung, memahami, dan memikirkan asal-usulnya. Sedangkan hewan atau makhluk lain tidak diberikan kemampuan berpikir abstrak tentang penciptaannya.
Tujuan ajakan refleksi ayat ini termasuk ayat yang memerintahkan ber-tafakkur yaitu merenung atau berpikir tentang asal-usul manusia. Dengan memerintahkan manusia untuk “melihat dari apa ia diciptakan”, Allah ingin manusia menyadari kelemahan, keterbatasan, dan asal-usulnya yang sederhana, sehingga menimbulkan rasa syukur dan ketundukan kepada Allah.