***
...
Kalau kita membaca sekilas ayat ke-164 ini terkesan seperti pindah topik begitu saja dari ayat-ayat sebelumnya. Namun sesungguhnya ayat ini justru punya hubungan yang sangat erat dengan ayat sebelumnya, yaitu ayat ini menguraikan sisi-sisi ketuhanan Allah SWT dan tanda-tanda kekuasaannya.
Sementara sebelumnya, yaitu pada ayat ke-163 dibicarakan tentang Allah SWT sebagai tuhan yang Esa, tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Maka hubungannya jelas bahwa ayat ke-164 ini merupakan penjelasan dan rincian dari pembahasan tentang siapakah Allah SWT itu.
Yang menarik ternyata ketika menjelaskan siapakah Allah SWT, Al-Quran tidak mengajak kita masuk ke dalam studi teologi yang berbelit-belit, sebagaimana umumnya yang sering diperdebatkan oleh para tokoh-tokoh teologi. Al-Quran malah sama sekali tidak membicarakan bagaiaman cara kita memahami wujud Allah, juga tidak bicara tentang dimanakah Allah, apakah Dia punya tangan betulan atau tidak, juga tidak meributkan seperti apa kursi-Nya. Al-Quran juga tidak membicarakan apakah semua ungkapan terkait sifat Allah SWT boleh ditakwil atau tidak.
Al-Quran justru mengajak kita membicarakan berbagai macam fenomena alam hasil ciptaan-Nya. Al-Quran menyebutkan tentang penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, bahtera yang berlayar di lautan lepas, termasuk fenomena turunnya air dari atas langit, yang kemudian membuat bumi menjadi hidup, hewan-hewan menyebar dimana-mana.
Seakan ada pesan tersirat bahwa kalau kita mau mendapatkan kedalaman keimanan di bidang aqidah dan tauhid, maka yang kita bahas bukan dzat Allah, melainkan justru ciptaan-ciptaan Allah SWT. Terlalu banyak ciptaan-Nya yang perlu kita pelajari, dimana di balik semua itu justru ada keimanan yang paling tinggi. Hal itu sejalan dengan nasehat dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Abu Dzar dalam riwayat berikut :
تَفَكَّرُوا فِى خَلْقِ اللَّه وَلَا تَفَكَّرُوا في اللَّه فتهْلِكُوا
Pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan pikirkan tenang Allah, agar kalian tidak binasa. [1]
[1] As-Suyuti (w. 911 H), Al-Jami’ Al-Kabir, (Cairo, Al-Azhar Asy-Syarif, Republik Arab Mesir, Cet. 2, 1426 H – 2005 M), jilid 4 hal. 409
***
إِنَّ فِي خَلْقِ
Lafazh khalq (خَلْقِ) maknanya penciptaan. Penciptaan itu mengadakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada menjadi ada (ابتداع شيء لم يسبق إليه). Sebagaimana disebutkan dalam Tahdzib Al-Lughah bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan itu berarti asalnya tidak ada kemudian menjadi ada.[1]
Maka ketika Allah SWT dalam ayat ini menyatakan Dia telah menciptakan kamu, maksudnya menjadi manusia dari yang asalnya tidak ada menjadi ada. Cukup bagi-Nya mengucapkan kun (jadilah), maka jadilah sesuatu itu.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (QS. Yasin : 82)
Meskipun demikian, bagi Allah SWT sah-sah saja ketika menciptakan sesuatu secara tidak langsung tapi melewati berbagai macam proses. Alam semesta, langit dan bumi dan seisinya adalah ciptaan Allah. Namun Allah SWT berkehendak dalam penciptaannya ada proses panjang dari satu waktu ke waktu yang lain. Bukan berarti Allah SWT lemah, namun Allah memang berkehendak demikian.
[1] Tahdzhib Al-Lughah (خلق), jili 1 hal. 1093
***
السَّمَاوَاتِ
Lafazh as-samawaat (السَّمَاوَاتِ) adalah bentuk jamak, bentuk tunggalnya adalah as-sama’ (السماء), berasal dari kata as-sumuw (السمو) yang maknanya : ‘tinggi’. Sehingga apapun yang dirasa tinggi, pantas untuk disebut dengan langit, tanpa dibedakan derajat ketinggiannya, apakah tinggi sekali hingga keluar angkasa tempat bintang-bintang beredar, ataukan ketinggian yang masih belum terlalu jauh seperti awan-awan hujan. Semuanya bisa masuk dalam kategori langit.
Sebenarnya langit yang disebut dalam Al-Quran ada banyak macamnya, mulai dari langit yang paling jauh seperti sidratil muntaha tempat Nabi SAW menjalankan mi’raj, hingga langit yang dihias dengan bintang-bintang yaitu ruang angkasa yang jarak bentangnnya bisa sampai bertahun-tahun cahaya. Sekedar informasi saja, bahwa bintang yang paling dekat dengan bumi kita berjarak 4 tahun cahaya.
Namun bila dikaitkan dengan penggalan berikutnya dimana Allah SWT bicara menurunkan air dari langit, maka kurang lebih yang dimaksud dalam ayat ini adalah langit paling dekat jaraknya dengan kita, yaitu wilayah seputaran atmosfer bumi.
Letak titik tanda kekuasaan Allah SWT di masa lalu sesuai dengan konsep yang dipahami di zamannya adalah fenoma langit yang membentang dan mengambang di angkasa tanpa ada tiang yang menopangnya. Buat manusia di masa lalu ketika kitab-kitab tafsir klasik dituliskan, tentu keberadaan langit tanpa tiang itu sebuah keajaiban yang menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
Sementara buat kita di masa sekarang, langit tanpa tiang itu bukan fenomena aneh, karena yang disebut langit itu bukanlah semacam lapisan kanopi atau atap yang mengambang di angkasa. Langit itu segala ruang angkasa yang amat luas dan tidak lagi terserap oleh gravitasi bumi.
Dalam konsep sederhana, jatuh itu disebabkan adanya gravitasi bumi. Semua benda yang masih dekat dengan bumi pastinya akan terkena pengaruh gravitasi bumi.
Matahari, Bintang dan Planet
Benda-benda langit seperti matahari, planet dan bintang ataupun benda- benda angkasa yang lain itu tidak jatuh ke bumi. Bagaimana kita bisa menjelaskannya?
Jawabannya cukup sederhana, karena posisinya benda-benda itu teramat jauh dari bumi. Sehingga meski masih ada pengaruh-pengaruh gravitasi, namun tidak sampai membuatnya jatuh ke bumi. Apalagi secara ukurannya, matahari itu besarnya berkali-kali dari ukuran bumi, sehingga kalau ada istilah jatuh, yang jatuh bukan matahari ke bumi, tetapi bumi-lah yang jatuh ke matahari.
Diameter matahari sekitar 1.39 juta kilometer, sedangkan diameter bumi hanya sekitar 12.742 kilometer. Jadi diameter matahari sekitar 109 kali lebih besar daripada diameter bumi. Dalam hal volume, Matahari bahkan lebih besar lagi. Volume Matahari sekitar 1.3 juta kali lebih besar dari volume Bumi. Jelas sekali matahari tidak akan jatuh ke bumi.
Bintang-bintang di angkasa banyak yang ukurannya melebihi matahari, namun kenapa bintang juga tidak jatuh ke bumi, alsannya karena jarak bintang ke bumi amat sangat jauh.
Bintang yang paling dekat adalah Proxima Centauri yang jaraknya sekitar 4.24 tahun cahaya dari Bumi. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun, dan secara kira-kira setara dengan sekitar 9,46 triliun kilometer.
Bulan
Adapun bulan sebagai satelit alami bumi, memang terkena pengaruh gravitasi bumi, namun tidak sampai membuatnya jatuh menghujam ke bumi, alasannya karena bulan sendiri juga bergerak dengan kecepatan orbital yang memadai sehingga gerakan sentrifugal yang dihasilkan mengimbangi gaya gravitasi tersebut. Gerakan sentrifugal ini menyebabkan Bulan tetap dalam orbit dan terus mengelilingi Bumi.
Dalam istilah yang lebih teknis, gerakan Bulan adalah hasil dari keadaan keseimbangan antara gaya gravitasi yang tertarik ke dalam dan gaya sentrifugal yang mendorong keluar. Gaya gravitasi yang lebih kuat pada jarak yang lebih dekat dengan Bumi, sedangkan gaya sentrifugal meningkat dengan kecepatan orbital Bulan.
Jadi, meskipun terkena pengaruh gravitasi Bumi, Bulan tetap berada di orbitnya karena gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh gerakannya mempertahankan keseimbangan dengan gaya gravitasi yang diterima dari Bumi.
Satelit
Bagaimana dengan satelit buatan manusia seperti ISS yang berada di ketinggian 400-an km, kenapa tidak jatuh ke jatuh ke bumi? Tentu ada penjelasannya.
Satelit tidak jatuh ke Bumi karena mereka berada dalam keadaan yang disebut orbit. Orbit adalah kondisi di mana satelit bergerak dengan kecepatan dan arah tertentu sehingga terus jatuh ke Bumi, tetapi juga terus melesat menjauh darinya. Prinsip dasar yang menjaga satelit tetap dalam orbit adalah kesetimbangan antara kecepatan satelit yang membawa mereka jatuh ke Bumi dan gaya sentrifugal yang timbul karena gerakan mereka.
Ketika satelit diluncurkan ke orbit, roket peluncur memberikan kecepatan yang cukup agar satelit dapat melampaui gravitasi Bumi. Setelah mencapai orbit, satelit terus bergerak maju dengan kecepatan konstan, yang dikenal sebagai kecepatan orbital. Kecepatan orbital ini memungkinkan satelit untuk tetap dalam orbit, mengelilingi Bumi tanpa jatuh ke permukaannya.
Prinsip ini berdasarkan hukum gerakan Newton, khususnya hukum gravitasi Newton dan hukum kedua Newton tentang gerak. Gaya gravitasi yang diberikan oleh Bumi menarik satelit ke arah pusatnya, tetapi karena satelit memiliki kecepatan orbital yang cukup tinggi, gerakan sentrifugal yang dihasilkan membuatnya tetap berada dalam orbit.
Di sisi lain atmosfer Bumi juga memiliki efek yang memperlambat satelit dalam orbit rendah. Oleh karena itu, satelit pada orbit rendah akan perlahan-lahan kehilangan ketinggiannya dan akan jatuh kembali ke Bumi setelah beberapa waktu. Untuk mempertahankan orbit mereka, satelit harus secara teratur mendapatkan dorongan atau melakukan manuver untuk meningkatkan kecepatan mereka dan mengimbangi pergeseran atmosfer.
***
وَالْأَرْضِ
Lafazh al-ardh (الْأَرْضِ) bermakna : tanah atau bumi, tergantung konteksnya. Namun kalau di masa lalu ketika Al-Quran diturunkan, umat manusia belum terlalu menyadari bahwa tanah yang mereka pijak ini ternyata adalah sebuah planet, sebagaimana planet-planet lain yang setiap hari mereka lihat dengan mata telanjang.
Hanya saja karena jaraknya sangat jauh, di mata umat manusia kala itu planet-planet itu nyaris seperti taburan permata kecil-kecil yang menempel menghias langit angkasa luar. Padahal seandainya waktu itu manusia sudah maju dari sisi sains, pastilah mereka akan sadar bahwa planet itu juga merupakan bola yang teramat raksasa, berputar pada porosnya sekaligus berkeliling angkasa mengitari matahari. Dan planet sebagiannya juga merupakan tanah yang bisa dijejakkan kaki di atasnya.
Dan yang lebih penting lagi, ternyata bumi kita adalah salah satu dari planet-planet itu. Dari planet sana, bumi kita juga nampak seperti butiran permata yang berkelap-kelip.
Dengan kondisi tingkat ilmu pengetahuan manusia di masa itu yang belum sampai bisa memahami bahwa bumi adalah sebuah planet di angkasa raya, maka penerjemahan yang lebih tepat dari kata al-ardh adalah tanah atau daratan, bukan bumi yang merupakan sebuah planet.
Dalam tafsir klasik, tanda kekuasaan Allah di tanah ini seperti disebutkan oleh Al-Qurtubi adalah keberadaan laut, sungai, isi kandungan tanah, tanaman-tanaman yang tumbuh di atas tanah. Semua itu merupakan tanda kekuasaan Allah SWT.
Dalam konsep tentang tanah ini sebagai tanda kekuasaan Allah, nampaknya tidak terlalu ada banyak perbedaan antara tafsir klasik dengan tafsir modern.
***
وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
Kata ikhtilaf (اخْتِلَافِ) di dalam Al-Quran punya banyak makna yang berbeda-beda tergantung konteks pemakaiannya. Ada yang bermakna pertentangan, berselisih, bermacam-macam dan juga punya makna bergantian, sebagaimana termuat di dalam ayat berikut :
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa : 82)
Dan bisa juga bermakna saling berselisih, sebagaimana termuat di dalam ayat berikut :
وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. (QS. Ali Imran : 19)
Ikhtilfah juga bisa bermakna : bermacam-macam, seperti pada ayat berikut :
وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ
Pohon korma dan tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, (QS. Al-Anam : 141)
Sedangkan dalam konteks menjelaskan adanya siang dan malam, ternyata ada banyak ayat yang juga menggunakan kata ikhtilaf. Kebanyakan diterjemahkan menjadi bergantinya siang dan malam.
Asal katanya dari (خَلَفَ - يَخْلِفُ) yang maknanya mengganti, sebagaimana ayat berikut :
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, (QS. Maryam : 59)
Namun karena malam menggantikan siang, lalu siang menggantikan malam, ungkapanya adalah ikhtalafa – yakhtalifu (اختلف - يختلف), sehingga maknanya yang lebih presisi bahwa malam dan siang itu masing-masing saling menggantikan atau saling silih berganti.
Lafazh al-lail (اللَّيْل) maknanya malam, yaitu secara alami ditandai dengan terbenamnya matahari di satu titik di permukaan bumi. Malam berakhir dengan ditandai terbitnya matahari keesokan harinya, namun sebagian ulama mengatakan bahwa berakhirnya malam itu bukan dengan terbitnya matahari, namun dengan terbitnya fajar alias waktu shubuh. Al-Qurtubi mengatakan bahwa malam itu berakhir dengan datangnya shubuh, bukan terbitnya matahari.[1]
Lafazh an-nahar (النَّهَار) maknanya adalah siang, secara alami ditandai dengan terbitnya matahari atau fajar, hingga terbenamnya matahari.
Namun di kebanyakan tafsir klasik, jangan kaget kalau banyak kita temukan penjelasan yang sangat mencerminkan pemahaman orang di masa itu, yaitu ketika malam matahari itu beristirahat di balik tanah. Yang menampakkan diri adalah bulan dan bintang. Besok begitu malam pergi, maka matahari kembali lagi mengangkasa.
Amat sangat wajar bila para mufassir menuliskan hal-hal semacam itu, karena mereka dahulu hidup di masa umat manusia belum terlalu banyak menguak misteri alam semesta.
Di masa lalu, proses bergantinya malam dan siang itu bisa menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
Namun untuk di masa sekarang ini, proses pergantian siang dan malam tentu berbeda jauh konsepnya. Kita hidup di masa lebih maju sudah beda jauh wawasan kita tentang langit dan bumi serta bagaimana terjadinya siang dan malam. Bahwa matahari tidak pernah berhenti bersinar, sehingga waktu siang selalu ada, begitu juga waktu malam selalu ada, setiap saat. Hanya saja siangnya bergerak dari arah Timur ke Barat, begitu juga malamnya, bergerak dari Timur ke Barat dan bergantian.
Semua bisa dengan mudah dijelaskan ketika kita menggunakan model bola bumi (globe) dengan lampu sorot. Hanya penjelasan sedetail itu tentu sulit kita temukan di dalam kitab-kitab tafsir klasik. Hanya tafsir modern saja yang memuat hal-hal semacam itu.
Maka membicarakan bagaimana proses pergantian siang dan malam di masa modern ini justru malah menambah kekaguman kita kepada kesempurnaan penciptaan yang Allah SWT lakukan.
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M), jilid 2 hal. 194
***
وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ
Kata fulk (الْفُلْكِ) sering diterjemahkan dengan bahtera, maksudnya adalah perahu yang berjalan mengapung di atas permukaan air, namun dalam ukuran yang amat besar, bisa memuat banyak penumpang dan mampu menahan gelombang yang tinggi.
Di dalam Al-Quran, salah satu yang banyak disebut-sebut adalah bahtera Nabi Nuh alaihissalam. Bahtera itu teramat besar ukurannya, bahkan membangunnya menghabiskan waktu bertahun-tahun. Bahtera itu bisa memuat begitu banyak penumpang, termasuk juga bisa membawa berbagai macam jenis hewan jantan dan betina sepasang demi sepasang.
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ
Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu. (QS. Hud : 40)
Bahkan karena ukurannya yang besar, bahtera itu mampu menembus ombak besar yang ukurannya seperti gunung tinggi.
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. (QS. Hud : 42)
Yang menjadi titik tanda kekuasaan Allah pada bahtera adalah bahwa ada kendaraan yang amat besar ukurannya, berat sekali bobotnya, namun bisa lewat di atas air laut tanpa tenggelam. Padahal jarum yang amat kecil itu kalau diceburkan ke air, langsung tenggelam.
***
بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ
Allah SWT menyebutkan bahwa adanya fenomena bahtera berlayar di atas lautan menjadi hal yang memberi manfaat buat manusia. Namun manfaat apakah yang dimaksud?
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan manfaat itu adalah pelayaran di laut, namun sebagian lainnya mengatakan bahwa yang dibicarakan manfaatnya justru lautnya itu sendiri dan bukan pelayarannya.
Namun menurut hemat Penulis, yang bermanfaat itu justru keduanya sekaligus, bukan hanya pelayarannya tetapi juga isi kandungan lautnya.
Pelayaran Laut
Kalau bicara pelayaran laut, maka denyut nadi ekonomi dunia sejak masa lalu hingga masa kini terletak di pelayaran. Pelayaran laut memiliki hubungan yang sangat erat dengan kekuatan ekonomi dunia, baik dalam konteks klasik maupun modern. Berikut adalah penjelasan mengenai hubungan tersebut:
§ Perdagangan Internasional: Pelayaran laut memfasilitasi perdagangan internasional dengan menjadi salah satu moda transportasi utama untuk mengangkut barang antar negara. Kapal-kapal kargo besar digunakan untuk mengangkut berbagai macam komoditas seperti barang konsumen, bahan mentah, minyak, gas, dan banyak lagi. Kemampuan untuk mengangkut barang secara massal dan efisien melalui jalur laut memungkinkan negara-negara untuk menjalin hubungan ekonomi yang kuat dan melakukan perdagangan di tingkat global.
§ Akses ke Sumber Daya: Pelayaran laut memberikan akses yang lebih mudah dan efisien ke sumber daya alam di berbagai belahan dunia. Melalui pelayaran laut, negara-negara dapat mengeksploitasi sumber daya alam yang melimpah seperti minyak, gas alam, bijih besi, batu bara, dan lainnya. Negara-negara yang memiliki akses laut yang baik dapat mengambil keuntungan dari sumber daya ini untuk mengembangkan industri mereka dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
§ Pusat Logistik dan Distribusi: Pelabuhan-pelabuhan laut menjadi pusat logistik dan distribusi penting bagi aktivitas perdagangan global. Pelabuhan-pelabuhan besar menjadi titik transhipment dan distribusi barang dari kapal laut ke transportasi darat atau sebaliknya. Keberadaan pelabuhan yang efisien dan terintegrasi dengan jaringan transportasi yang luas memainkan peran penting dalam rantai pasok global dan mendukung aktivitas ekonomi.
§ Pengembangan Industri: Pelayaran laut juga mendorong pengembangan industri yang terkait, seperti industri kapal, perkapalan, peralatan maritim, dan sektor jasa terkait lainnya. Industri ini menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi teknologi, dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian suatu negara.
§ Globalisasi Ekonomi: Pelayaran laut menjadi simbol dari globalisasi ekonomi yang semakin meningkat. Hubungan perdagangan yang erat antar negara, perusahaan multinasional, dan rantai pasok global tidak akan mungkin terjadi tanpa koneksi maritim yang kuat. Pelayaran laut membuka pintu bagi pasar yang lebih luas, peluang investasi, dan kerjasama ekonomi antar negara.
Secara keseluruhan, pelayaran laut memiliki peran yang vital dalam mendukung pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tulang punggung perdagangan internasional.
Dalam konteks ekonomi modern, penting untuk memastikan infrastruktur maritim yang andal, peraturan perdagangan yang adil, dan kerjasama internasional yang baik agar potensi pelayaran laut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kekuatan ekonomi dunia.
Potensi Kekayaan Laut
Potensi kekayaan laut yang melimpah memiliki peran yang signifikan dalam penunjang ekonomi dunia. Berikut adalah beberapa potensi kekayaan laut yang dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi global:
Sumber Daya Energi: Laut memiliki potensi besar sebagai sumber daya energi. Sumber daya energi laut yang paling terkenal adalah minyak dan gas alam. Eksploitasi dan produksi minyak dan gas alam di lepas pantai (offshore) telah menjadi sektor industri yang penting dan memberikan pendapatan yang besar bagi banyak negara. Selain itu, energi terbarukan seperti energi angin laut (energi pasang surut, energi gelombang, dan energi arus laut) juga menjadi potensi yang semakin dieksplorasi sebagai alternatif energi bersih.
Perikanan dan Akuakultur: Laut adalah sumber daya penting untuk sektor perikanan dan akuakultur. Perikanan laut memberikan pasokan pangan yang signifikan dan lapangan kerja bagi jutaan orang di seluruh dunia. Akuakultur, yaitu budidaya organisme air seperti ikan, udang, dan kerang di perairan laut, juga menjadi industri yang semakin penting dalam menyokong kebutuhan pangan dunia.
Ekstraksi Sumber Daya Mineral: Laut juga menyimpan kekayaan mineral yang berpotensi dieksploitasi. Misalnya, terdapat deposit mineral seperti tembaga, nikel, kobalt, dan seng di dasar laut. Ekstraksi mineral dari dasar laut, yang dikenal sebagai pertambangan laut dalam (deep-sea mining), memiliki potensi untuk memberikan sumber daya mineral yang berharga bagi industri dan ekonomi global.
Wisata Laut dan Pariwisata: Kekayaan laut juga menjadi daya tarik bagi industri pariwisata. Destinasi pantai, pulau-pulau tropis, keindahan terumbu karang, dan kegiatan seperti menyelam, berlayar, dan pesiar menarik wisatawan dari seluruh dunia. Pariwisata laut dan pantai memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan pendapatan bagi banyak negara pesisir.
Pemanfaatan potensi kekayaan laut ini membutuhkan pendekatan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan laut dan keberlanjutan sumber daya alam. Dalam hal ini, kerjasama internasional dan pengelolaan yang baik diperlukan untuk memastikan bahwa eksploitasi dan penggunaan kekayaan laut dilakukan dengan cara yang berkelanjutan, memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
***
وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ
Ketika Allah SWT menyebutkan bahwa Dia telah menurunkan air dari langit sebagai tanda kekuasaan-Nya, memang hal itu patut untuk direnungkan. Sebab jumlah air hujan itu sangat besar, dalam beberapa kasus, hujan itu malah jadi bencara banjir di banyak negeri.
Hujan bikin banjir itu berarti air yang turun dari langit tentu jumlahnya teramat banyak, seperti air yang ada di lautan. Lantas yang menjadi keanehan adalah bagaimana proses air yang sebegitu banyak bisa ‘terbang’ di angkasa tanpa ada wadah yang mengangkutnya. Kemudian berjuta-juta meter kubik air hujan itu turun begitu saja ke permukaan bumi.
Tentu sejak masa klasik, semua itu sulit utnuk dipahami secara ilmiyah. Yang ada dalam benak mereka, pokoknya fenomena air yang turun dari langit cukup diakui sebagai kekuasaan Allah SWT.
Namun di masa modern ini, proses bagaimana langit bisa menurunkan hujan itu sangat mudah dipahami dengan jalur ilmu pengetahuan modern. Cabang ilmu yang khusus mempelajari fenomena hujan adalah ilmu meteorologi atau klimatologi. Ilmu meteorologi adalah studi tentang atmosfer, termasuk pemahaman tentang proses-proses fisika dan dinamika atmosfer yang mempengaruhi cuaca. Salah satu aspek penting dalam ilmu meteorologi adalah pemahaman tentang pembentukan dan mekanisme hujan.
Ilmu meteorologi mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya awan, proses kondensasi uap air, pembentukan tetes-tetes air atau kristal es dalam awan, dan bagaimana hujan terbentuk dan jatuh ke permukaan Bumi. Ilmu ini juga melibatkan studi tentang sifat-sifat fisik dan kimia tetes-tetes air atau kristal es, serta peran berbagai fenomena atmosfer seperti angin, suhu, tekanan, dan kelembaban dalam pembentukan hujan.
Selain itu, ilmu meteorologi juga mempelajari pola dan distribusi hujan di berbagai wilayah, serta faktor-faktor iklim yang mempengaruhi jumlah dan intensitas curah hujan dalam jangka panjang. Hal ini termasuk dalam cakupan ilmu klimatologi, yang merupakan cabang ilmu meteorologi yang fokus pada studi iklim dan perubahan iklim dalam skala waktu yang lebih lama.
Dengan demikian, ilmu meteorologi dan klimatologi merupakan disiplin ilmu yang secara khusus mempelajari fenomena hujan serta peran dan dampaknya dalam konteks cuaca dan iklim.
***
فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا
Kata ahya (أَحْيَا) bermakna menghidupkan. Namun hidup yang dimaksud adalah dalam arti matefora, bukan hidup sebagaimana manusia yang punya ruh dan bisa berbicara.
Allah SWT menggambarkan bahwa dengan air yang turun dari langit, Dia telah ‘menghidupkan’ bumi setelah ‘kematiannya’. Maksudnya dengan turunnya air dari langit alias hujan, maka tumbuh suburlah tanaman di permukaan bumi, seolah-olah bumi itu menjadi makhluk hidup. Padahal yang hidup itu tanamannya, bukan buminya.
***
وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ
Lafazh batstsa (بَثَّ) bermakna : menyebar atau bertebaran, sedangkan lafazh daabbah (دَابَّةٍ) artinya hewan melata, meliputi segala macam jenis hewan di bumi.
Turunnya air hujan itu selain menjadi sumber air minum buat hewan-hewan, juga menumbuhkan tanaman sehingga membentuk hutan dengan segala habibat yang dibutuhkan oleh berbagai macam jenis hewan melata.
Sebaliknya bila suatu wilayah itu tandus, kering dan beriklim gurun yang amat sedikit menerima curah hujan, maka keaneka ragam biota hayati pun menjadi amat terbatas. Gurun pasir sendiri sangat sedikit mengandung air, sehinnga biotanya pun amat terbatas.
Hanya ada sedikit jenis hewan telah mengembangkan adaptasi khusus yang memungkinkan mereka bertahan hidup di gurun pasir tersebut. Di antaranya kadal gurun yang memiliki kulit tebal yang membantu mengurangi kehilangan air dan kemampuan untuk menyimpan air dalam tubuh mereka. Selain itu ada ular, kura-kura, serangga jenis tertentu, kalajengking, tikus, reptil jenis tertentu.
Namun ketika hujan turun di suatu wilayah, tumbuhlah aneka ragam tanaman dan tumbuhan, yang salah satu fungsinya sebagai sumber makanan dan nutsiri bagi begitu banyak hewan melata, serta menjadi habitat ruang lingkup kehidupan yang nyaman.
Perkiraan yang sering dikutip adalah bahwa hutan-hutan tropis yang meliputi sekitar 7% dari total luas daratan di Bumi, menyimpan sekitar setengah dari semua jenis spesies di planet ini. Sebagai gambaran kasar, perkiraan jumlah spesies di seluruh dunia berkisar antara 3 hingga 100 juta spesies, tetapi sebagian besar masih belum ditemukan dan didokumentasikan secara resmi.
Sebagai contoh, Hutan Amazon, hutan hujan terbesar di dunia, diyakini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dengan ratusan ribu hingga jutaan spesies, termasuk tanaman, serangga, mamalia, burung, dan reptil. Demikian pula, hutan-hutan tropis di Asia Tenggara, seperti Hutan Hujan Sumatra, Kalimantan, dan Papua Nugini, juga diketahui memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
***
وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ
Kata tashrif (تَصْرِيفِ) bermakna : mengirimkan, juga bisa dimaknai menggerakkan. Buya HAMKA memaknainya menjadi peredaran.
Kata ar-riyah (الرِّيَاحِ) adalah bentuk jamak dari ar-rih (الرٍّيْح) yang bermakna angin, yaitu udara yang bergerak. Dan sebenarnya dalam bahasa Arab, ada banyak nama angin yang berbeda-beda tergantung sifat dan karakternya. Oleh karena itulah ayat ini menggunakan kata riyah (الرِّيَاحِ) untuk menyebutkan berbagai macam jenis angin. Kalau kita telaah lebih jauh, beberapa istilah itu muncul di ayat-ayat berikut :
1. ar-rih al-‘aqim (الرِّيحَ الْعَقِيمَ) adalah : angin yang membinasakan.
وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ
Dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan, (QS. Adz-Dzariyat : 41)
2. rihan sharshara (رِيحًا صَرْصَرًا) adalah : angin yang bersuara gemuruh.
فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. (QS. Fushshilat : 16)
3. rih fiha shirrun (رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ) adalah : angin yang sangat dingin.
كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ
Seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. (QS. Ali Imran : 117)
4. rih thayyib (رِيحٍ طَيِّبَةٍ) : adalah tiupan angin yang baik, sedangkan angin badai disebu dengan rih ‘ashif (رِيحٌ عَاصِفٌ).
وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ
Dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai. (QS. Yunus : 22)
5. ar-rih ‘ashifah (الرِّيحَ عَاصِفَةً) : adalah angin yang diberi kuasa kepada Nabi Sulaiman, yaitu angin yang sangat kencang.
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا
Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. (QS. Al-Anbiya : 81)
6. rukha’ (رُخَاءً) : adalah angin yang berhembus dengan baik :
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ
Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, (QS. Shad : 36)
7. hashiba (حَاصِبًا) adalah : angin yang bertiup membawa serta batu-batuan.
إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ
Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka). (QS. Al-Qamar : 34)
8. samum (سَمُومٍ) adalah : angin yang sangat panas
فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ
Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih, (QS. Al-Waqiah : 42)
9. rih sharsharin ‘athiyah (رِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ) adalah angin yang sangat dingin dan bertiup dengan sangat kencang.
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ
Adapun kaum ´Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, (QS. Al-Haqqah : 6)
Selain istilah-istilah angin yang tersebar di dalam Al-Quran, bangsa Arab juga punya nama-nama khususnya untuk angin tertentu. Diantaranya adalah angin ash-shaba (الصَّبَا) yaitu angin yang berhembus dari arah Ka’bah ke arah lain. Angin ini bersuhu panas dan kering. Sebaliknya angin dari berbagai arah bila berhembus ke arah Ka’bah disebut dengan angin ad-dabur (الدَّبوْر). Suhunya dingin dan basah.
***
وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Kata as-sahab (السَّحَابِ) artinya adalah awan, yaitu kumpulan uap air yang mengapung di angkasa, bila sudah waktunya maka akan berubah menjadi hujan. Kata al-musakkhar (الْمُسَخَّرِ) maknanya yang dikendalikan, atau bisa juga bermakna ditundukkan, sebagaimana Allah SWT menundukkan matahari dan bulan.
وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى
Dan Dia menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. (QS. Ar-Rad : 2)
Ungkapan bainas-sama’i wal adrh (بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ) secara harfiyah maknanya adalah : antara langit dan bumi. Maksudnya bahwa awan-awan itu melayang-layang di antara langit dan bumi.
Ini termasuk bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, yang perlu direnungkan agar kita sebagai manusia menyadari betapa Allah itu Maha Kuasa sekaligus juga Maha Pencipta.
Kalau dipikir-pikir memang menggelitik juga, bagaimana awan yang begitu besar dan berbobot itu bisa melayang-layang di udara seringan kapas. Sejak zaman dahulu umat manusia kesulitan membayangkannya.
Namun di masa modern ini, fenomena awan melayang-layang di udara sudah terpecahkan, yaitu karena pada dasarnya awan itu bagian dari atmosfer bumi kita juga. Namun awan itu tidak jatuh ke bumi karena pada dasarnya awan itu sendiri merupakan kumpulan dari sekian banyak uap air yang bobotnya sangat ringan dan ‘terbang’ dari permukaan Bumi. Namun kemudian penguapan ini diikuti oleh kondensasi uap air menjadi tetes air yang membentuk awan.
Pada saat tetes air dalam awan cukup berat untuk jatuh sebagai hujan, gravitasi Bumi bekerja dan tetes air tersebut turun sebagai hujan. Namun, selama siklus penguapan dan kondensasi ini, awan yang mengandung tetes air dapat bertahan di atmosfer dan melayang di udara.
Dengan demikian, berat tetes air dalam awan tidak secara langsung menghujam ke Bumi karena adanya kekuatan gaya angkat, gaya hambat, dan kecepatan angin di atmosfer yang menjaga awan tetap mengambang di udara. Namun, ketika tetes air dalam awan tumbuh cukup besar atau terdapat kondisi yang mendukung pembentukan hujan, maka tetes air tersebut akan jatuh sebagai hujan ke permukaan Bumi.
***
لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Lafazh la-ayaatin (لَآيَاتٍ) maknanya : “merupakan tanda-tanda”. Lafazh li qaumin ya’qilun (لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ) maknanya : “bagi orang-orang yang berakal”. Yang menarik untuk dikaji dari penutup ayat ke-164 ini bahwa ada begitu banyak tanda-tanda kekuasaan Allah, namun diarahkannya bukan kepada orang beriman saja, melainkan bagi mereka yang berakal.
Begitulah metode Al-Quran dalam masalah aqidah dan tauhid, bukan membedah dzat Allah SWT, karena pasti akan kesulitan, bahkan hanya akan menimbulkan pertikaian serta perdebatan teologis yang tidak ada habis-habisnya. Justru Al-Quran mengajarkan kepada kita, untuk membahas berbagai fenomena di alam semesta, dimana di balik semua fenomena itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
Dan orang-orang yang berakal pastinya akan berkesimpulan tentang keberadaan Allah SWT dan keagungan-Nya. Selain itu juga akan mendapatkan banyak manfaat dari memperhatikan semua fenomena di atas, lewat berbagai penemuan ilmiyah yang pada hakikatnya juga anugerah dari Allah SWT.
Setidaknya di ayat ini Allah SWT menyebutkan 9 fenomena alam yang juga menjadi tanda-tanda kekuasaan-Nya. Masing-masing fenomena itu sudah banyak yang terkuak misterinya, tidak lagi sekedar mitologi dan dongeng orang terdahulu. Masing-masing fenomena yang disebutkan dalam ayat ke-164 ini sudah ada ilmu sains tersendiri yang khusus, yaitu :
1. Penciptaan Langit Dan Bumi (خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ)
Di masa modern ini ada ilmu Astronomi dan Kosmologi yang mempelajari penciptaan langit dan bumi, termasuk asal-usul dan evolusi alam semesta, galaksi, bintang, dan planet.
2. Pergiliran Siang Dan Malam (وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ و)
Di masa modern ini ada ilmu Astronomi dan Fisika Bumi, yang mempelajari pergerakan rotasi Bumi yang menyebabkan pergantian siang dan malam, serta fenomena lainnya terkait dengan interaksi antara Bumi, Matahari, dan Bulan.
3. Berlayarnya Bahtera Di Laut (وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ)
Al-Quran menyebutkan fenomena berlayarnya bahtera di atas permukaan lautan. Kita kemudian diperintahkan untuk menjadikannya sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Di masa modern ini sudah ditemukan beberapa cabang ilmu yang terkait dengan pelayaran di laut:
§ Navigasi: Cabang ilmu yang mempelajari teknik dan metode untuk menentukan posisi, mengarahkan, dan mengendalikan pergerakan kapal di laut. Ini melibatkan penggunaan instrumen navigasi, peta laut, perhitungan astronomi, dan pemahaman tentang peraturan dan aturan navigasi.
§ Hidrodinamika: Ilmu yang mempelajari perilaku fluida, khususnya air, dan bagaimana kapal berinteraksi dengan air. Ini melibatkan penelitian tentang kekuatan hidrodinamis, perlawanan air, stabilitas kapal, dan optimisasi desain kapal untuk kinerja yang lebih baik.
§ Meteorologi Maritim: Cabang ilmu yang mempelajari cuaca dan kondisi atmosferik di laut. Ini meliputi pemahaman tentang perubahan cuaca, siklon tropis, pola angin, gelombang laut, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi keamanan dan efisiensi pelayaran di laut.
§ Teknik Maritim: Cabang ilmu teknik yang berkaitan dengan desain, konstruksi, dan perawatan kapal dan struktur maritim. Ini meliputi pemahaman tentang kekuatan material, struktur kapal, propulsi, sistem listrik, sistem mekanik, dan teknologi yang terkait dengan kapal laut.
§ Hukum Maritim: Cabang hukum yang berfokus pada masalah hukum yang berkaitan dengan kegiatan pelayaran dan penggunaan laut. Ini meliputi hukum perjanjian perkapalan, klaim dan ganti rugi, perlindungan lingkungan laut, perlindungan hak asasi manusia di laut, dan regulasi keamanan maritim.
§ Transportasi Maritim: Cabang ilmu yang mempelajari aspek ekonomi, logistik, dan manajemen dalam industri transportasi maritim. Ini melibatkan pemahaman tentang manajemen rantai pasok, analisis biaya, manajemen risiko, dan optimisasi efisiensi operasional dalam konteks pelayaran laut.
§ Nautika: Cabang ilmu yang menggabungkan pengetahuan navigasi, meteorologi, hukum maritim, dan manajemen kapal untuk melatih dan mempersiapkan para profesional maritim seperti nakhoda, perwira navigasi, dan personel yang terlibat dalam operasi kapal di laut.
4. Laut Yang Bermanfaat Bagi Manusia (فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ)
Al-Quran memerintahkan kita memperhatikan laut yang bermanfaat bagi manusia, sebagai wujud kita beriman kepada Allah SWT dan mengenal betapa Allah SWT Maha Kuasa.
Pengamatan terhadap manfaat laut buat kesejahteraan umat manusia tercermin dalam beberapa cabang ilmu yang tumbuh seiring manfaat laut itu sendiri, antara lain adalah :
§ Oseanografi: Cabang ilmu yang mempelajari lautan, termasuk sifat fisik, kimia, biologi, dan geologi laut. Oseanografi melibatkan pemahaman tentang dinamika laut, siklus air laut, iklim laut, keanekaragaman hayati laut, dan ekosistem laut secara keseluruhan. Ini membantu memahami manfaat laut seperti sumber daya ikan, energi terbarukan, penelitian kelautan, dan pengelolaan lingkungan.
§ Akuakultur: Cabang ilmu yang mempelajari budidaya organisme air, termasuk ikan, udang, moluska, dan tumbuhan air lainnya. Akuakultur memainkan peran penting dalam menyediakan sumber daya makanan laut yang berkelanjutan, meningkatkan produksi perikanan, dan melindungi sumber daya ikan alami.
§ Perikanan: Cabang ilmu yang mempelajari manajemen dan pemanfaatan sumber daya ikan di laut dan perairan. Ilmu perikanan melibatkan penelitian tentang populasi ikan, teknik penangkapan ikan yang berkelanjutan, perlindungan spesies, konservasi, dan manajemen perikanan yang bertanggung jawab.
§ Kelautan dan Sains Lingkungan: Cabang ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dan lingkungan laut. Ini melibatkan penelitian tentang dampak manusia terhadap laut, polusi laut, perubahan iklim, kesehatan ekosistem laut, dan upaya untuk melindungi dan menjaga keberlanjutan lingkungan laut.
§ Biologi Kelautan: Cabang ilmu yang mempelajari organisme dan kehidupan laut. Ilmu biologi kelautan melibatkan penelitian tentang keanekaragaman hayati laut, ekologi, perilaku, adaptasi organisme laut, dan proses evolusi dalam konteks lingkungan laut.
§ Teknik Kelautan: Cabang ilmu teknik yang berkaitan dengan desain, konstruksi, dan operasi struktur kelautan, termasuk kapal, platform lepas pantai, dan fasilitas lainnya di laut. Ilmu teknik kelautan melibatkan pengembangan teknologi kelautan, transportasi maritim, rekayasa pantai, dan manajemen risiko kelautan.
§ Sumber Daya Mineral Laut: Cabang ilmu yang mempelajari potensi sumber daya mineral di dasar laut, seperti tembaga, nikel, kobalt, dan seng. Penelitian dalam bidang ini melibatkan eksplorasi, ekstraksi, dan pengelolaan sumber daya mineral yang terdapat di lingkungan laut.
5. Fenomena Turunnya Hujan Dari Langit (وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ)
Al-Quran memerintahkan kita memperhatikan fenomena turunnya hujan, secara salah satu cara kita mengagumi kebesaran Allah SWT.
Hasilnya di masa modern ini ada cabang ilmu ilmu yang mempelajari tentang huja. Di antaranya ada ilmu Meteorologi, yang mempelajari fenomena turunnya hujan dari langit, termasuk pembentukan awan, proses kondensasi, dan perjalanan siklus hidrologi yang melibatkan uap air, awan, dan hujan.
Dengan menguasai ilmu turunnya hujan, maka umat manusia bahkan bisa melakukan berbagai rekayasa terhadap hujan. Salah satunya adalah metode modifikasi awan yang melibatkan penggunaan pesawat untuk mengubah sifat awan dan mempengaruhi proses hujan.
Pola yang dilakukan adalah bagaimana kita menghambat pertumbuhan awan dengan menyebarkan partikel kecil seperti garam laut atau karbon hitam, atau memodifikasi komposisi awan dengan memasukkan zat kimia yang mempengaruhi proses pembentukan tetes air atau kristal es.
6. Menghidupkan Tanah (فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا)
Fenomena dihidupkan tanah menjadi subur dengan tumbuhan dan tanaman. Di masa modern ini sudah berkembang pesat ilmu Pertanian dan Agronomi yang mempelajari cara menghidupkan permukaan tanah dan menjaga kesuburan tanah dengan menggunakan teknik pertanian, pertanaman, dan pemupukan untuk mendukung pertumbuhan tumbuhan dan tanaman.
7. Tersebarnya Hewan-Hewan Melata Di Bumi (وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ)
Di masa modern ini kita bersyukur sudah bisa mendapatkan ilmu Biologi dan Zoologi yang mempelajari kehidupan hewan dan penyebaran mereka di Bumi, termasuk hewan-hewan melata dan penelitian tentang perilaku, ekologi, dan taksonomi hewan.
8. Fenomena Angin Yang Bertiup (وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ)
Di masa modern ini ada ilmunya tersendiri, yaitu Meteorologi dan Klimatologi yang mempelajari fenomena angin dan pola aliran udara di atmosfer, termasuk penjelasan tentang apa yang menyebabkan angin dan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan, arah, dan distribusi angin.
Pemanfaatan angin bukan hanya untuk menggerakkan kapal layar di lautan, tetapi di daratan pun sejak dahulu sudah banyak negeri yang memanfaatkannya. Salah satunya adalah Belanda yang dikenal sebagai "negara kincir angin". Di masa modern ini, kincir angit digunakan sebagai pembangkit listrik, seperti yang kita temukan di Amerika, China, Jerman, India, Denmark dan lainnya.
9. Fenomena Awan Yang Bergerak (وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ)
Di masa modern ini adalah ilmu Meteorologi dan Fisika Awan. Tugasnya mempelajari pembentukan, evolusi, dan perilaku awan, termasuk pengaruh keadaan atmosfer, sifat fisika awan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya dalam skala waktu dan ruang.
NEW