Kata lam (لم) artinya tidak. Kata yalid (يلد) artinya : melahirkan. Bentuk fi'il madhi dan mudhari'-nya adalaha (ولد - يلد), namun asalnya dari kata walad yang artinya : anak yang dilahirkan.
Akarnya dari tiga huruf yaitu huruf wawu (و), huruf lam (ل) dan huruf dal (د). Dari situ bisa bermakna sebagai orang tua, yaitu walid (والد) atau ayah atau walidah (والدة) yaitu ibu. Juga bisa bermakna peristiwa kelahiran, yaitu maulid (مولد).
Maka dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa Allah itu tidak melahirkan, dalam artinya tidak punya anak dan tidak pernah menyebut dengan bahasa kiasan tentang 'anak-anak Allah'.
Ayat ini nampaknya untuk menegaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani banyak yang mengklaim bahwa Allah SWT punya anak, atau setidaknya menjadikan orang-orang shalih seperti anak.
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah : 30)
Bahkan Yahudi dan Nasrani menggunakan istilah 'anak Allah' sebagai bentuk ungkapan bahwa mereka itu sangat disayang oleh Allah SWT.
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (QS. Al-Maidah : 18)
Sedangkan dalam Islam, penggunakan istilah 'anak Allah' itu meski hanya sekedar kiasan dan metafora, namun tetap saja hal itu dilarang. Sebab Allah SWT itu tidak punya anak, tidak melahirkan anak, tidak mengangkat anak dan juga tidak layak baginya punya anak dalam format apapun.
Dalam berbagai agama dan kepercayaan di masa lalu, ada konsep Tuhan yang dianggap memiliki kemampuan untuk melahirkan atau memiliki anak. Beberapa contoh dari peradaban tersebut adalah:
-
Agama Mesir Kuno:
- Ra: Dewa matahari yang dianggap sebagai pencipta segala sesuatu. Dalam beberapa mitologi, Ra dikatakan memiliki anak, seperti Horus yang dianggap sebagai anak Ra dan dewi Isis. Horus juga sering digambarkan sebagai penerus Ra di bumi.
-
Mitologi Yunani:
- Zeus: Dewa utama dalam mitologi Yunani yang dikenal memiliki banyak anak, baik dari dewi-dewi lainnya maupun manusia. Salah satu anak terkenal Zeus adalah Herkules.
- Apollo dan Artemis: Anak-anak dari Zeus dan Leto, yang masing-masing memiliki peran besar dalam mitologi Yunani.
-
Mitologi Romawi:
- Jupiter: Seperti Zeus dalam mitologi Yunani, Jupiter adalah dewa utama dalam mitologi Romawi, yang juga memiliki banyak anak, seperti Mars (dewa perang) dan Minerva (dewi kebijaksanaan).
-
Hinduism:
- Brahma: Sebagai salah satu dewa utama dalam agama Hindu yang bertanggung jawab atas penciptaan, Brahma dikisahkan memiliki anak-anak yang turut berperan dalam penciptaan dunia, seperti Manu, yang dianggap sebagai leluhur manusia.
- Shiva dan Parvati: Dalam beberapa cerita, dewa Shiva dan dewi Parvati memiliki anak, seperti Ganesha, dewa dengan kepala gajah yang terkenal dalam tradisi Hindu.
-
Mitologi Norse (Skandinavia):
- Odin: Dalam mitologi Norse, Odin adalah dewa tertinggi, dan dia memiliki beberapa anak, termasuk Thor (dewa petir) dan Baldur (dewa kecantikan dan kebaikan).
-
Mitologi Mesopotamia:
- Anu: Dalam kepercayaan Mesopotamia, khususnya dalam mitologi Sumeria dan Akkadia, Anu adalah dewa langit yang menjadi pencipta dan memiliki anak-anak yang memerintah berbagai aspek alam dan kehidupan, seperti Enlil (dewa udara) dan Enki (dewa air).
-
Kepercayaan Aztec:
- Quetzalcoatl: Dalam kepercayaan Aztec, Quetzalcoatl adalah dewa pencipta yang kadang-kadang dianggap sebagai figur yang berhubungan dengan kelahiran dan kehidupan.
Di dalam berbagai mitologi dan agama tersebut, konsep Tuhan atau dewa yang memiliki anak sering kali menggambarkan hubungan kekuatan ilahi yang mewariskan kemampuan atau kekuasaan kepada keturunannya, baik sebagai penerus dalam tugas ilahi maupun sebagai manifestasi dari ciptaan dan alam semesta.
Kata wa lam yulad (وَلَمْ يُولَدْ) artinya : dan tidak dilahirkan. Maksudnya juga tidak menjadi anak dari pihak lain.
Konteks ketika ayat ini turun adalah bahwa kaum musyrikin banyak menyembah tuhan yang mereka akui sendiri sebagai anak dari tuhan yang lain. Dan begitu juga dengan peradaban umat manusia di berbagai belahan lain. Banyak sekali yang menyembah dewa yang diklaim sebagai anak dari dewa yang lain.
Dalam berbagai mitologi dan peradaban, terdapat banyak dewa yang dianggap sebagai anak dari dewa lainnya. Berikut adalah beberapa contoh dewa-dewa yang statusnya anak dari dewa lain dalam berbagai budaya:
1. Mitologi Yunani
- Ares: Dewa perang yang merupakan anak dari Zeus dan Hera.
- Athena: Dewa kebijaksanaan yang lahir dari kepala Zeus setelah ia menelan istrinya, Metis.
- Apollo: Dewa musik, ramalan, dan matahari yang merupakan anak dari Zeus dan Leto.
- Artemis: Dewa berburu dan alam liar, saudara kembar dari Apollo, juga anak dari Zeus dan Leto.
- Hermes: Dewa komunikasi, pencurian, dan perjalanan, anak dari Zeus dan Maia.
2. Mitologi Romawi
- Mars: Dewa perang, anak dari Jupiter (setara dengan Zeus) dan Juno (setara dengan Hera).
- Venus: Dewa cinta dan kecantikan, anak dari Jupiter dan Dione dalam beberapa versi, atau dalam versi lain, lahir dari busur yang memutuskan tubuh Uranus.
3. Mitologi Norse
- Baldur: Dewa cahaya dan keindahan, anak dari Odin dan Frigg.
- Thor: Dewa petir, anak dari Odin dan Jord (dewi bumi).
- Loki: Dewa kebohongan dan kekacauan, anak dari Fárbauti dan Laufey. Dalam beberapa versi mitologi, Loki dianggap sebagai saudara tiri dari Odin karena ada hubungan antara mereka.
4. Mitologi Mesir
- Horus: Dewa langit dan raja, anak dari Osiris dan Isis.
- Anubis: Dewa kematian dan pengawalan jiwa, anak dari Osiris dan Nephthys dalam beberapa versi.
- Sekhmet: Dewa perang dan penyembuhan, anak dari Ra dalam beberapa versi.
5. Mitologi Hindu
- Kartikeya: Dewa perang, anak dari Shiva dan Parvati.
- Ganesha: Dewa kebijaksanaan dan keberuntungan, anak dari Shiva dan Parvati.
- Lakshmi: Dewi kekayaan, istri dari Vishnu, tetapi dalam beberapa versi dianggap sebagai anak dari Brahma dan Saraswati.
6. Mitologi Jepang (Shinto)
- Amaterasu: Dewi matahari, anak dari Izanagi dan Izanami.
- Susanoo: Dewa badai dan laut, anak dari Izanagi dan Izanami.
- Tsukuyomi: Dewa bulan, anak dari Izanagi dan Izanami.
7. Mitologi Mesopotamia
- Marduk: Dewa utama dalam mitologi Babilonia, anak dari Ea (Enki) dan Damkina.
- Nergal: Dewa kematian dan penyakit, anak dari Enlil dan Ninlil.
8. Mitologi Celtic
- Lugh: Dewa matahari dan perang, anak dari Cian dan Ethliu.
- Brigid: Dewi api dan penyembuhan, anak dari The Dagda dan Bamba.
9. Mitologi Inca
- Inti: Dewa matahari, anak dari Viracocha (dalam beberapa versi mitologi Inca).
- Mama Quilla: Dewi bulan, istri dari Inti, dan dalam beberapa versi dianggap sebagai anak dari Viracocha.
Mitologi- mitologi ini menggambarkan dewa-dewa yang memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan dan alam semesta, dengan hubungan keluarga yang sering kali melibatkan peran sebagai anak dari dewa atau entitas yang lebih besar.