Rumah Fiqih Indonesia
Jilid : 18 Juz : 9 | Al-Anfal : 19
Al-Anfal 8 : 19
Mushaf Kemenag RI hal. 179
Kemenag RI 2019: Jika kamu (kaum kafir) meminta putusan (tentang pihak mana yang benar), sungguh putusan itu telah datang kepadamu (kemenangan kaum muslim pada Perang Badar). Jika kamu berhenti (memusuhi Rasul), itulah yang lebih baik bagimu. Jika kamu kembali (melakukan kezaliman serupa), niscaya Kami akan kembali (mengalahkan kamu). Pasukanmu sedikit pun tidak akan dapat menolak bahaya darimu biarpun (banyak jumlahnya). Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.

Prof. Quraish Shihab: Jika kamu (kaum kafir) memohon putusan (perihal siapa yang benar), maka sungguh telah datang kepadamu putusan itu (kemenangan kaum Muslim di perang Badar); dan jika kamu berhenti (melakukan hal yang tidak diridai Allah swt.), maka itulah yang baik bagimu; dan jika kamu kembali (melakukan kejahatan serupa), pasti Kami kembali (mengalahkan kamu); dan kelompok kamu sekali-kali tidak akan mencukupi (untuk membela) kamu sedikit pun, walaupun (kelompok kamu) banyak, dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang mukmin.

Prof. HAMKA: Jika kamu meminta kemenangan maka sesungguhnya telah datang kepada kamu kemenangan itu. Namun, jika kamu mau berhenti maka itulah yang lebih baik bagi kamu. Akan tetapi, kalau kamu kembali lagi, Kami pun akan kembali. Dan, sekali-kali tidaklah akan berfaedah bagi kamu golongan kamu itu sedikit pun, walau pun dia banyak. Dan, bahwasanya Allah adalah beserta orang-orang yang beriman.

TAFSIR AL-MAHFUZH
***

Allah SWT tegaskan bahwa orang-orang kafir itu meminta kepada Allah SWT agar diberikan keputusan siapa yang benar dan siapa yang salah, antara mereka dan kaum muslimin. Dengan terjadinya kekalahan mereka, maka itulah keputusannya yaitu mereka kalah, berarti mereka salah.

Untuk itu Allah SWT tawarkan agar mereka berhenti jadi musuh Nabi SAW. Sebab jika mereka kembali memusuhinya, maka Allah SWT akan terus menerus memposisikan mereka sebagai pihak yang kalah terus-terusan, biarpun punya pasukan yang banyak jumlahnya, semua itu tidak ada gunanya. Sebab Allah itu akan selalu berada di pihak mereka yang beriman.

***
إِنْ تَسْتَفْتِحُوا

Makna in (إِنْ) adalah: jika. Kata tastaftihuu (تَسْتَفْتِحُوا) asalnya dari tiga huruf dasar yaitu (ف ت ح) yan secara harfiah berarti membuka, menyingkap, atau menghilangkan penghalang.

Kalau kita urutkan proses pembentukannya, kata dasar fataha (فتح) itu lalu ditambahkan huruf hamzah, sin dan ta’ di depannya, sehingga menjadi istaftaha (استفتح). Penambahan huruf ini punya fungsi khusus dalam bahasa Arab, yaitu untuk menunjukkan arti memohon atau menuntut. Jadi, kalau fataha (فتح) berarti membuka, maka istafhaha (استفتح)berarti memohon untuk dibukakan atau meminta sebuah keputusan.

Bentuk madhi dan mudhari adalah (استفتح يستفتح), sedangkan bentuk mashdar-nya atau kata bendanya adalah istiftah (استفتاح), yang sering kita dengar dalam istilah doa pembuka. Yang diajak bicara alias mukhathabnya ternyata bukan Nabi SAW, melainkan orang-orang kafir.

Maksudnya orang-orang kafir itu memohon agar diberikan kemenangan yang adil. Mereka berdoa kepada Allah saat mereka merasa terzalimi atau saat mereka merasa berada di pihak yang benar. Mereka menantang Allah dengan berkata,

"Ya Allah, siapa di antara kami yang memutus silaturahmi atau membawa ajaran yang tidak benar, maka tunjukkanlah azab kepada pihak tersebut."

Jadi, mereka sebenarnya sedang meminta Allah untuk membuka pintu keputusan, menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Mukhothab-nya atau pihak yang diajak bicara di sini adalah orang-orang kafir Quraisy itu sendiri. Allah sedang menyindir mereka melalui ayat ini. Mereka tadinya menantang dan memohon agar Allah memberikan keputusan atau kemenangan kepada pihak yang mereka anggap benar. Nah, ketika Perang Badar terjadi dan kaum Muslimin yang menang, Allah seolah menjawab tantangan mereka, "Kalian kan yang minta keputusan? Ini sekarang keputusannya sudah datang, dan ternyata yang menang adalah pihak yang kalian musuhi."

Jadi, kata ini bukan sekadar kata kerja biasa, melainkan sebuah bentuk tantangan balik dari Allah. Mereka yang dulunya berani menantang Allah untuk menunjukkan siapa yang benar, akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa keputusan Allah justru berpihak pada orang-orang beriman.

***
فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ

Makna faqad (فَقَد) adalah: maka sungguh. Makna jaa'akumu (جَاءَكُمُ) adalah: telah datang kepadamu. Makna al-fathu (الْفَتْحُ) adalah: keputusan itu.

Setelah sebelumnya mereka menantang Allah untuk memberikan keputusan, penggalan ayat ini menjadi jawaban yang telak dan sangat tajam. Kata faqad (فَقَدْ) di sini berfungsi sebagai penegas bahwa apa yang mereka tunggu-tunggu yaitu pembukaan atau keputusan, bukan lagi sekadar janji, melainkan sudah hadir di depan mata.

Kata al-fathu di ayat ini bukan berarti kemenangan, tetapi terbukanya kebenaran yang selama ini tertutup atau diputarbalikkan. Dan kebenaran itu berupa fakta kenyataan yang tidak bisa mereka sanggah lagi: mereka kalah dan kaum muslimin menang.

Penyebutan al-fathu di sini memberikan efek psikologis yang sangat kuat bagi kaum kafir Quraisy. Mereka tadinya meminta keputusan dengan asumsi bahwa merekalah yang akan dimenangkan oleh Allah. Namun, ketika keputusan itu datang, ternyata pintu kemenangan yang mereka harapkan justru terbuka bagi pihak lawan. Dengan kata lain, mereka sendiri yang sebenarnya mengundang azab atau kehancuran tersebut lewat doa tantangan yang mereka ucapkan sebelum perang.

Jadi, penggalan ini mengandung sindiran yang sangat halus namun mematikan. Allah seolah berkata,

"Kalian yang minta diputuskan siapa yang benar, nah sekarang pintu keputusan itu sudah terbuka lebar di depan kalian, dan kalian sendirilah yang mendapati bahwa kalian berada di pihak yang kalah."

***
وَإِنْ تَنْتَهُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

Makna wa in (وَإِنْ) adalah: dan jika. Kata tantahuu (تَنْتَهُوا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, bentuk madhi dan mudhari’ nya adalah (انْتَهَى يَنْتَهِي) yang secara harfiyah berarti berhenti, selesai, atau meninggalkan sesuatu. Maksudnya jika kamu wahai kaum kafir berhenti dari segala tindakan atau permusuhan yang sedang kamu lakukan.

Makna fahuwa (فَهُوَ) adalah: maka hal itu. Makna khairun (خَيْرٌ) adalah: lebih baik. Makna lakum (لَكُمْ) adalah: bagimu.

Setelah kekalahan di Badar yang memalukan, Allah memberi celah pintu keluar : kalau kalian mau berhenti memusuhi Nabi dan berhenti menghalangi dakwah Islam, itu jauh lebih baik buat kalian sendiri. Allah menunjukkan bahwa Dia tidak bernafsu untuk menghancurkan mereka semua sampai habis jika mereka memang mau sadar dan berhenti.

Kemenangan telak di Badar itu bukan dijadikan ajang untuk melampiaskan nafsu perang, melainkan cara Allah untuk membuat mereka berpikir ulang. Allah sedang mengetuk pintu hati mereka yang paling dalam. Kalau mereka memilih untuk berhenti dari kekafiran dan permusuhan sekarang, pintu ampunan masih terbuka dan itu jauh lebih selamat bagi masa depan mereka daripada harus terus-menerus menantang keputusan Tuhan yang sudah jelas nyata di depan mata.

Pilihan ada di tangan mereka, apakah mau tetap keras kepala dengan tipu daya yang sudah pasti rapuh, atau memilih jalan selamat dengan berhenti dari permusuhan.

***
وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ

Makna wa in (وَإِنْ) adalah: dan jika. Makna ta'uuduu (تَعُودُوا) adalah kata kerja, bentuk madhinya (عَادَ) dan bentuk mudhari-nya adalah (يَعُودُ). Maka makna ta'uuduu (تَعُودُوا) adalah: kamu kembali.

Maksudnya jika kamu wahai orang-orang kafir kembali lagi memerangi kaum muslimin, maka tentu saja ada konsekuensinya dan tidak akan dibiarkan begitu saja.

Konsekuensinya adalah Allah SWT berfirman dengan kata na'ud (نَعُدْ) yang artinya : Kami juga akan kembali, yaitu kembali menghadiahi mereka kekalahan, kehancuran dan siksaan.

Pesan di balik penggalan ini sangat lugas dan tanpa basa-basi. Allah seolah sedang menggariskan hukum sebab-akibat yang sangat jelas bagi orang kafir:

Jika kalian memilih untuk kembali memusuhi, kembali menghalangi dakwah, atau kembali merancang tipu daya, maka Allah pun akan kembali memberikan balasan yang serupa dengan apa yang baru saja mereka rasakan di Badar.

***
وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا

Makna wa lan (وَلَنْ) adalah: dan tidak akan. Lafazh tughniya 'ankum (تُغْنِيَ عَنْكُمْ) agak rumit juga bagaimana menerjemahkannya, terbukti tiga sumber terjemahan kita saling berbeda-beda hasil terjemahannya. Kemenang RI bilang : ”tidak akan dapat menolak bahaya”. Quraish Shihab lain lagi, menurut Beliau artinya :  “tidak akan mencukupi”. Sedangkan HAMKA bilang artinya adalah : ”tidaklah akan berfaedah”. Maka butuh ruang khusus untuk menjelaskan.

 Makna fi'atukum (فِئَتُكُمْ) adalah: pasukanmu atau golonganmu. Makna syai'an (شَيْئًا) adalah: sedikit pun.

Lafazh tughni  (تُغْنِي) ini memang unik sekali, yang kita tahu akar katanya dari tiga huruf yaitu (غ ن ي) yang sebenarnya makna dasarnya bukan kaya. Kita terlanjur secara gegabah menyebut kata ini dengan makna konotatif sebagai : kaya atau kekayaan. Padahal kata ’kaya’ dalam arti memiliki harta benda material itu dalam bahasa Arab disebut tsari (ثري). Kekayaannya itu sendiri disebut tsarwah (ثروة). Dengan kata dasar itu Allah SWT menyebut as-tsara (الثَّرَىٰ) dalam Al-Quran :

لَهُ مَا فِى السَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ

"Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah (ats-tsara)." (QS. Thaha : 6)

Secara teknis kata ats-tsara (الثَّرَىٰ) ini berarti tanah yang lembab atau tanah yang menempel pada permukaan bumi setelah hujan. Dalam tradisi bahasa Arab, kekayaan yang melimpah disebut dengan tsarwah. Sering diibaratkan dengan sesuatu yang menumpuk di atas bumi, sementara ats-tsara merujuk pada apa yang ada di dalam lapisan tanah tersebut.

Lalu bagaimana dengan kata ghaniyyun (غني), apa makna sebenarnya dari kata yang punya akar kata (غ ن ي) ini? Ternyata makna sebenarnya bukan kaya, melainkan kondisi merasa tidak membutuhkan. Contoh kongritnya sebagaimana disebutkan bahwa Allah SWT itu Tuhan yang menciptakan alam semesta dan Dia ’tidak butuh’ pada hasil karyanya sendiri. Maka disebut Allah itu ghaniyyun anil alamin. Allah tidak butuh kepada semua yang Dia ciptakan. Perhatikan ayat ini :

فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan sesuatu pun dari seluruh alam. (QS. Ali Imran : 97)

Kalau secara teknis maknanya adalah Allah itu "Maha Tidak Butuh" kepada alam semesta. Allah tidak butuh ibadah kita, tidak butuh ketaatan kita, tidak butuh bantuan kita, bahkan tidak butuh eksistensi alam semesta itu sendiri.

Lantas bagaimana dengan ungkapan lan tughniya ankum di ayat ini?

Sekarang kita bisa menyusun jembatan maknanya dengan sangat jernih. Setelah kita sepakat bahwa ghaniya itu intinya adalah "tidak butuh" atau "mandiri", mari kita lihat bagaimana kalimat lan tughniya 'ankum menghantam kesombongan kaum kafir itu.

Orang-orang kafir Mekkah yang sombong itu datang ke Badar dengan membawa mentalitas ’tidak butuh’. Mereka merasa bahwa dengan kekuatan jumlah pasukan yaitu fi'atukum (فِئَتُكُمْ), juga persenjataan, termasuk juga posisi strategis, sudah mereka miliki. Artinya mereka merasa berada pada kebercukupan untuk bisa memenangkan perang. Dalam benak mereka, mereka sudah tidak butuh lagi pada pertolongan atau izin dari Tuhan. Pasukan itu adalah alat yang mereka pakai untuk memproyeksikan rasa tidak butuh tersebut.

Ketika Allah SWT tegaskan wa lan tughniya 'ankum fi'atukum syai'an (وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا), sesungguhnya Allah sedang mematahkan ilusi kemandirian tersebut. Secara harfiah, maknanya menjadi:

"Dan sekali-kali tidak akan mampu memberikan kalian status 'tidak butuh' (kemandirian), pasukan kalian itu sedikit pun."

Allah mengatakan bahwa pasukan Quraisy tidak akan mampu menjadi penyedia rasa cukup bagi mereka. Pasukan itu tidak punya kekuatan untuk membuat mereka menjadi pihak yang tidak butuh lagi kepada Allah.

Karena pasukan itu gagal total dalam fungsinya, yaitu gagal membuat mereka merasa aman dan gagal membuat mereka tidak butuh pertolongan Allah SWT, maka di sinilah kita sampai pada terjemahan yang paling pas di telinga yaitu bahwa pasukan itu tidak ada gunanya sama sekali. Kita boleh memahami kira-kira maksudnya, yaitu :

Kalian merasa dengan pasukan itu kalian sudah tidak butuh Tuhan? Ketahuilah, pasukan itu sedikit pun tidak akan mampu membuat kalian benar-benar tidak butuh pada pertolongan-Ku, apalagi menahan azab-Ku."

Begitulah cara ayat ini meruntuhkan keangkuhan manusia yang merasa sudah mandiri karena memiliki harta atau kekuatan besar. Ternyata, di hadapan takdir Allah, semua itu gagal total memberikan rasa aman yang mereka cari.

***
وَلَوْ كَثُرَتْ

Makna wa lau (وَلَوْ) adalah: dan walaupun. Makna katsurat (كَثُرَتْ) adalah: jumlahnya banyak.

Yang banyak itu maksudnya bukan sebatas pada jumlah personil, tapi juga perbekalannya, kendaraannya, senjatanya, termasuk juga ghaminahnya. Semua itu pada akhirnya menjadi tidak ada gunanya.

Secara hitungan matematik, apa yang orang-orang kafir Mekkah miliki sebagai modal dalam berperang disebut : banyak sekali, bahkan sudah masuk kategori overwhelming force atau kekuatan yang melumpuhkan mental lawan sebelum perang dimulai.

Mari kita bedah secara detail apa saja modal yang membuat mereka begitu percaya diri:

1. Jumlah Personel (Kuantitas Tempur)

Mereka membawa pasukan sekitar 1.000 orang. Di masa itu, untuk ukuran perang antarkabilah, angka 1.000 adalah kekuatan yang sangat masif. Bandingkan dengan jumlah kaum Muslimin yang hanya sekitar 313 orang.

Secara matematis, rasio kekuatannya lebih dari 3 berbanding 1. Mereka merasa memiliki keunggulan kuantitas yang mustahil untuk ditembus oleh pertahanan sekecil apa pun.

2. Perbekalan Logistik (Daya Tahan)

Abu Jahal dan para pemimpin Quraisy membawa logistik yang sangat melimpah, bahkan dirancang untuk pesta kemenangan. Mereka membawa stok makanan yang cukup untuk bermukim di sekitar Badar selama beberapa hari, lengkap dengan ternak unta yang disembelih setiap hari untuk menjaga stamina pasukan.

Mereka tidak sedang melakukan perjalanan darurat. Mereka sedang melakukan ekspedisi militer yang terencana dengan kenyamanan logistik yang sangat baik.

3. Kendaraan Tempur (Mobilitas)

Mereka unggul dalam hal kavaleri. Pasukan berkuda Quraisy adalah elite tempur saat itu. Mobilitas yang tinggi memungkinkan mereka untuk melakukan manuver pengepungan atau serangan mendadak dengan sangat cepat.

Selain itu, ratusan unta yang mereka bawa bukan cuma untuk tunggangan, tapi juga sebagai platform mobilitas tinggi untuk mengangkut persenjataan dan logistik di medan gurun yang ganas.

4. Persenjataan (Kualitas Defensif & Ofensif)

Persenjataan mereka hampir seragam dan lengkap. Mayoritas pasukan memiliki zirah baju besi yang mampu menahan tebasan pedang atau tusukan tombak. Mereka memiliki pedang-pedang kualitas terbaik, busur panah dengan cadangan anak panah yang banyak, dan tombak-tombak panjang.

Dalam terminologi perang, mereka adalah pasukan yang fully-equipped.

5. Ghanimah atau Harta (Nilai Investasi)

Ini adalah faktor psikologis yang sangat krusial. Mereka membawa serta harta kekayaan dan barang dagangan yang sangat berharga sebagai investasi.

Mereka tidak hanya berperang untuk menang, tapi juga sedang mengawal nilai ekonomi Makkah. Rasa memiliki terhadap aset yang dibawa ini membuat mereka punya motivasi ganda: memenangkan perang sekaligus menyelamatkan kekayaan materi.

Secara kalkulasi manusia, modal mereka yang banyak itu seharusnya menghasilkan kemenangan dengan mudah dan mutlak. Namun ternyata Allah membatalkan rumus tersebut dengan ungkapan lan tughniya : tidak ada gunanya.

Di mata Allah, semua variabel matematis itu, baik angka 1.000 personil, baju besi, unta, harta menjadi zero value karena kehilangan satu variabel kunci: izin dan pertolongan-Nya.

Ibarat sebuah komputer dengan spesifikasi tercanggih di dunia, jika aliran listrik utamanya dicabut, maka seluruh hardware itu tidak lebih dari tumpukan logam yang mati. Begitulah Quraisy di Badar. Mereka punya semua hardware yang mewah, tapi ketika Allah menetapkan kehancuran bagi mereka, banyaknya perbekalan dan senjata itu justru menjadi beban bagi mereka sendiri.

Ketika ayat ini menyebut wa lau katsurat, Allah seolah sedang mengoreksi persepsi manusia tentang makna kata : banyak.

"Kalian hitung pasukan, senjata, dan harta kalian itu banyak? Iya, hitungan matematis kalian benar. Tapi di hadapan ketetapan-Ku, semua akumulasi itu nilainya nol besar karena tidak bisa menjadi penjamin keamanan (tidak bisa menjadi ghaniya) bagi kalian."

***
وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

Makna wa anna (وَأَنَّ) adalah: dan sesungguhnya. Makna allaaha (اللَّهَ) adalah: Allah. Makna ma'a (مَعَ) adalah: bersama. Makna al-mu'miniina (الْمُؤْمِنِينَ) adalah: orang-orang yang beriman.

Kalau orang kafir mengandalkan jumlah pasukan yang banyak, orang beriman diajak untuk mengandalkan ma'iyyah alias kebersamaan dengan Allah. Kata ma'a yang artinya beserta bukan berarti Allah duduk di samping fisik mereka, tapi maksudnya adalah pertolongan, perlindungan, pengawasan, dan dukungan penuh Allah.

Bayangkan perbandingannya. Orang kafir punya ribuan pasukan, senjata lengkap, harta melimpah, tapi tidak punya ma'iyyah atau kebersamaan dengan Allah. Hasilnya? Lan tughniya alias : tidak ada gunanya.

Sementara orang beriman memang jumlahnya sedikit, senjatanya minim, logistiknya pas-pasan, tapi mereka punya ma'iyyah, yaitu kebersamaan dengan Allah. Hasilnya adalah kemenangan yang membuat musuh gemetar.

*) Tafsir Al-Mahfuzh ini merujuk kepada kitab tafsir utama (tersedia 32 tafsir).
🔐