Rumah Fiqih Indonesia

📖 FIKRAH

Hari yang Meragukan

Hari syak adalah hari dimana masih diragukan apakah sudah masuk Ramadhan atau belum. Apakah definisi meragukan menurut ulama? Bagaimana hukum puasa di hari itu?

Jika kita ragu awal masuk sekolah itu hari senin atau selasa, lebih baiknya memang masuk hari seninnya. Logisnya, kita tidak rugi jika memang benar-benar masuk hari senin. Jika masuknya ternyata selasa, toh tinggal pulang saja. Itu sebagai bentuk kehati-hatian.

Beda jika kita masuk hari selasa, kita akan terhitung absen sehari jika ternyata awal masuknya hari senin.

Ternyata jika kita bicara puasa Ramadhan, malah logikanya tidak seperti itu. Jika seorang itu ragu apakah sudah masuk Ramadhan atau masih Sya’ban, itu disebut sebagai hari syak atau hari yang masih meragukan.

Jika masih ragu, malah kita disuruh untuk tidak menjalankannya.

Hadits-Hadits Tentang Hari Syak

Dalam kaitan hari syak, ada tiga hadits:

1.       Hadits Pertama

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ، إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا، فَلْيَصُمْه.ُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda: Jangalah kalian mendahului puasa Ramadhan sehari atau dua hari, kecuali jika kalian memang terbiasa puasa sebelumnya, maka puasalah.

HR. al-Bukhari (Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari: 3/ 28) dan HR. Muslim (Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim: 2/ 762)

Hadits ini secara gamblang melarang seorang untuk mendahului puasa Ramadhan dengan satu hari atau dua hari puasa.

2.       Hadits Kedua

وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رضي الله الله عنه- قَالَ: مَنْ صَامَ اَلْيَوْمَ اَلَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا اَلْقَاسِمِ.

Dari Ammar bin Yasir beliau berkata: Siapa yang berpuasa di hari syak, maka dia telah bermaksiat kepada Abu al-Qasim (Muhammad) shallaAllahu alaihi wa sallam.

HR. at-Tirmidzi dengan sanad hasan shahih. (Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi: 3/ 61)

 

3.       Hadits Ketiga

حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْ قَالَ: قَالَ أَبُو القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ»  وفي مسلم «فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمُ الشَّهْرُ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ»

Dari Abu Hurairah mendengar bahwa Nabi bersabda: Berpuasalah kalian ketika melihat hilal, berbukalah ketika melihat hilal pula. Jika terhalang mendung, maka sempurnakanlah sya’ban menjadi 30 hari

HR. al-Bukhari (Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari: 3/ 27), HR. Muslim (Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim: 2/ 762)

Pengertian Hari Syak

Hari syak adalah hari setelah tanggal 29 Sya’ban, adakalanya tanggal 30 Sya’ban atau tanggal 1 Ramadhan, yaitu ketika belum diketahui secara pasti terlihatnya hilal Ramadhan secara hukum syar’i yang mendapat legitimasi (Wizarat al-Auqaf, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah: 45/ 314).

Menurut ulama al-Hanafiyyah, hari syak adalah hari dimana orang masih ragu apakah sudah masuk Ramadhan atau masih Sya’ban. Hal ini bila orang-orang sudah membicarakan adanya rukyat hilal, tetapi belum ditetapkan secara syar’i. (Abdullah bin Mahmud Majduddin al-Hanafi, al-Ikhtiyar li Ta’lil al-Mukhtar, 1/ 130).

Sedangkan menurut ulama Malikiyyah, hari syak adalah hari ke 30 Sya’ban ketika langit mendung dan rukyat belum ditetapkan secara syar’i (Abu Hasan Ali bin Ahmad al-Adawi al-Maliki, Hasyiat al-Adawi ala Syarhi Kifayat at-Thalib, 1/ 444).

Menurut madzhab Syafi’iyyah, disebut hari syak adalah ketika tanggal 30 Sya’ban dan orang-orang telah membicarakan rukyat hilal tetapi belum ditetapkan secara syar’i, atau telah ada orang yang bersaksi melihat hilal tetapi ditolak (Zakariyya bin Muhammad al-Anshari as-Syafi’i, Fathu al-Wahhab, 1/ 141).

Menurut al-Hanabilah, hari syak adalah hari ke 30 Sya’ban ketika langit tidak tertutup mendung, tetapi belum ada yang melaporkan telah rukyat hilal, atau telah ada yang lapor tetapi ditolak kesaksiannya, atau ketika di langit terdapat mendung (Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hanbali, al-Mughni: 3/ 89).

Jika ditarik benang merah, hari syak bisa didefinisikan sebagai hari yang masih diragukan apakah sudah masuk tanggal 1 Ramadhan atau masih tanggal 30 Sya’ban. Diragukan adakalanya karena langit tertutup mendung, atau tidak tertutup mendung tetapi belum bisa terlihat hilal Ramadhan, atau sudah ada yang melihat tetapi orang tersebut ditolak kesaksiannya.

Hukum Puasa di Hari Syak

Ketika berbicara hukum puasa di hari syak ini, maka ada dua kemungkinan.

Pertama, seorang puasa di hari syak dengan niat puasa Ramadhan, sebagai bentuk kehati-hatian. Kedua, seorang puasa di hari syak tidak dengan niat puasa Ramadhan, tetapi niat puasa lain.

Bentuk pertama inilah yang disebut puasa yang haram menurut jumhur ulama’.

Ulama Hanafiyyah menganggap bahwa puasa syak dengan niat Ramadhan itu makruh, bahkan dikatakan menyerupai orang Yahudi. Tetapi jika seseorang berpuasa hari syak dengan niat Ramadhan, maka sah puasanya tanpa harus qadha’ jika memang akhirnya benar-benar terbukti masuk bulan Ramadhan (Ali bin Abu Bakar al-Marghinani as-Hanafi, al-Hidayah: 1/ 117).

Ulama Malikiyyah menyebutkan bahwa haram hukumnya puasa hari syak model pertama ini. Bahkan jika seseorang berpuasa di hari syak dengan niat Ramadhan tanpa rukyat terlebih dahulu, lantas terbukti hari itu benar-benar telah masuk Ramadhan, orang tersebut masih wajib qadha’ puasa satu hari Ramadhan.

Alasannya karena seorang tersebut berpuasa tanpa adanya keyakinan dalam niatnya (Abu Umar Yusuf bin Abdullah al-Maliki, al-Istidzkar: 3/ 368).

Ulama Syafi’iyyah juga mengharamkan puasa hari syak dengan niat Ramadhan (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathu al-Bari: 4/ 120).

Sedangkan menurut madzhab Hanbali, ada dua riwayat yang disandarkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal.

Riwayat pertama menyebutkan bahwa makruh hukumnya puasa syak jika diniatkan puasa Ramadhan (Alauddin al-Mardawi al-Hanbali, al-Inshaf: 3/ 349).

Riwayat kedua menyebutkan bahwa ketika sudah masuk tanggal 29 Sya’ban maka wajib rukyat hilal, jika hari cerah dan tidak terlihat hilal maka tidak berpuasa. Tetapi jika hari sedang mendung, maka wajib berpuasa dengan niat Ramadhan (Manshur bin Yunus al-Buhuti al-Hanbali, Kasyafu al-Qina’: 2/ 301).

Jadi, jumhur ulama lebih memilih ketidak bolehan puasa hari syak dengan niat puasa Ramadhan demi kehati-hatian. Hal ini, lebih sesuai dengan hadits-hadits yang telah disebutkan diatas.

Kedua, puasa hari syak tidak dengan niat Ramadhan. Jumhur ulama menyebutkan bahwa boleh hukumnya puasa hari syak jika memang seorang itu sudah terbiasa puasa sunnah sebelumnya, misalnya puasa senin-kamis, termasuk juga puasa karena qadha’ atau karena nadzar. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah diatas.

Menurut hemat penulis, jika memang masih ragu sudah masuk bulan Ramadhan atau belum, mending mengikuti saja yang meyakinkan. Itulah yang difatwakan oleh kebanyakan ulama dari salaf sampai khalaf.

waAllahu a’lam bis shawab.


Berita Fikrah Terbaru

Lihat Semua Artikel »