Salah satu kekuatan masjid dalam sejarah Islam adalah fungsinya yang merupakan pusat pengajaran ilmu-ilmu keislaman.
Universitas Al-Azhar contohnya, dari yang awalnya masjid alias Jami' menjadi Jami'ah yaitu universitas.
Semua ulama kumpul di masjid itu, lalu masing-masing mengajarkan ilmunya kepada pelajar dan mahasiswa yang datang dari seluruh penjuru dunia Islam.
Keragaman ilmu mereka memang nyaris tidak ada batasnya. Dan tingkat penguasaan para pakarnya berada di level tertinggi.
Maka mudah sekali buat para penuntut ilmu, mau belajar ilmu agama Islam yang mana saja, semua available disitu.
Bahkan ilmu fiqih yang baku dalam format empat Mazhab pun tersedia. Tinggal sebut asal negara masing-masing, maka akan diajarkan sesuai dengan Mazhab negeri mereka.
Akhirnya, Al-Azhar lebih dikenal sebagai kampus Islam terlengkap yang mengajarkan berbagai varian ilmu. Padahal sejatinya merupakan masjid yang dibangun awalnya bahkan oleh Dinasti Bani Fatimiyah.
Dinasti Syiah itu ditaklukkan kemudian oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dari Dinasti Bani Ayyubiyah. Namun masjidnya dikembangkan lewat digelarnya bursa ilmu-ilmu keislaman level dunia.
Shalahuddin Al-Ayyubi bergelar Nashirus-sunnah, konon karena beliau berhasil menghidupkan ajaran ahlisunnah wal jamaah di atas bekas peninggalan masjid Syiah.
Masjidnya tidak diruntuhkan, tapi pahamnya yang diluruskan. Caranya dengan menggelar sebanyak-banyaknya pengajaran ilmu-ilmu keislaman.
Maka Al-Azhar lebih dikenal sebagai pusat ilmu yang tidak ada habisnya. Terbilang sebagai salah satu kampus tua bersama dengan beberapa kampus lainnya.
Maka saya bangga bila melihat masjid di negeri kita yang isinya penyampaian ilmu-ilmu keislaman. Pagi, siang, sore bahkan malam, selalu digelar majelis ilmu.
Pakar-pakar ilmu keislaman dari berbagai bidang, diberi tempat dan dimuliakan. Lalu para pembelajar agama bisa menikmati semua suguhan ilmu.
Kalau yang sekarang saya lihat, masjid agak ramai kalau habis jumatan ada makanan gratis. Yah sudah lumayan lah.
Tetapi idealnya masjid jangan hanya jadi tempat makan, tetapi kita bangga kalau masjid jadi pusat ilmu keislaman.
Kita bangga kalau masjid penuh oleh jamaah yang datang untuk belajar ilmu keislaman. Bukan datang karena mau dapat jatah makan.
Ke masjid itu selain shalat adalah untuk menuntut ilmu, karena masjid adalah kampus. Ke masjid buat buat jatah makan, sebab masjid bukan kantin.
Urusan makan, silahkan bekerja dan bikin usaha, Anda cari makan sendiri lah. Masak ke masjid cuma buat nebeng makan doang.