“Bukan itu maksudnya, ustadz! Yang sesuai dengan perintah Nabi, dan yang ada dalilnya sesuai hadits shahih, ustadz? Kita kan beribadah harus dengan dalil”.
Semua hukum harus sesuai “dalil”, semua hukum harus “sesuai sunnah”. Sedikit-sedikit sesuai sunnah, sesuai sunnah sedikit-sedikit.
Sayangnya dalil itu dimaknai secara sempit. Disebut dalil jika pernah diperintahkan atau dilakukan oleh Nabi saja. Dibatasi lagi, haditsnya harus “shahih” menurut ulama tertentu itu-itu saja.
Dialog diatas hanyalah dialog imajiner saja, tetapi model orang yang seperti itu, beberapa kali saya sudah temui.
Imam al-Syathibi (w. 790 H), tentu sudah tak asing lagi. Terlebih kitab beliau al-I’tisham menjadi pedoman wajib dalam mengupas makna bid’ah, ya karena sesuai selera seirama. Beliau memberikan statment bahwa nash dalil itu tak mesti harus spesifik partikular.
أن الشريعة لم تنص على حكم كل جزئية على حدتها، وإنما أتت بأمور كلية وعبارات مطلقة تتناول أعدادا لا تنحصر (الموافقات، إبراهيم بن موسى بن محمد اللخمي الغرناطي الشهير بالشاطبي (المتوفى: 790هـ)، ص. 5/ 14
Syariat tak mesti memberikan nash terhadap setiap hukum secara spesifik partikular. Tetapi kadang memberikan sesuatu yang bersifat kulliy, dengan kalimat-kalimat muthlak yang mencakup banyak hal. (Ibrahim bin Musa as-Syathibi w. 790 H, as-Syathibi, h. 5/14)
Jika Dalil Selalu Harus Spesifik Partikular
Siapa yang menyangkal bahwa shalat itu ibadah mahdhah. Pernahkah pembaca sekalian tahu jenis shalat satu ini; shalat ayat takhwif. Shalat bid’ah apa lagi ini. Eits, tunggu dulu. Ulama yang menyatakan adanya shalat ini adalah Syeikh Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) serta Syeikh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H).
Shalat Ayat Takhwif ini dilakukan ketika ada beberapa fenomena alam yang menjadikan orang itu takut, semisal ketika ada petir, angin kencang, siang hari gelap pekat, dll. Bentuk shalatnya sama dengan shalat gerhana. Persamaannya dengan shalat gerhana adalah karena sama-sama ada fenomena alam yang menakutkan.
Berikut pernyataan Syeikh Utsaimin (w. 1421 H):
القول الثالث: يصلى لكل آية تخويف... وهذا الأخير هو اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية ـ رحمه الله ـ، له قوة عظيمة. وهذا هو الراجح. (الشرح الممتع على زاد المستقنع، محمد بن صالح بن محمد العثيمين (المتوفى: 1421هـ)، 5/ 194)
Pendapat ketiga: shalat setiap ada fenomena alam yang menakutkan. Pendapat ini adalah pilihan dari Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), dalilnya kuat dan inilah pendapat yang rajih. (Muhammad bin Shalih al-Utsaimin w. 1421 H, as-Syarh al-Mumti’, h. 5/ 194)
Memang benar, itulah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Beliau menyatakan:
وتصلى صلاة الكسوف لكل آية كالزلزلة وغيرها. (الفتاوى الكبرى، تقي الدين أبو العباس أحمد بن عبد الحليم بن عبد السلام بن عبد الله بن أبي القاسم بن محمد ابن تيمية الحراني الحنبلي الدمشقي (المتوفى: 728هـ)، ص. (5/ 358
Shalat kusuf itu dikerjakan untuk setiap ayat/ tanda fenomena alam; seperti saat gempa bumi dan lainnya. (Ibnu Taimiyyah al-Hanbali w. 728 H, al-Fatawa al-Kubra, h. 5/ 358).
Bid’ahkah? Pernahkah Nabi Melakukannya? Adakah dalil shahihnya? Adakah ulama salaf yang melakukannya? Waallahu a’lam. Coba tanyakan kepada ustadz ahli bid’ah, maksudnya ustadz yang ahli dalam bidang per-bid’ah-an. Paling-paling jawabannya, “Ini masalah khilafiyyah”.
Riwayat Imam Bukhari: Innas as-Shalata Jami’atun
Kembali kepada judul diatas, memang dalam hadits shahih, ada perbedaan antara riwayat Imam Bukhari (w. 256 H) dan Imam Muslim (w. 261 H).
لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ. صحيح البخاري : 2/ 35
Saat gerhana matahari di zaman Nabi, ada panggilan: Inna as-Shalata Jamiatun. (Shahih Bukhari)
Susunannya dengan tarkib isnadiy, Mubtada-khabar. “As-Shalata” dibaca fathah, karena menjadi isim dari “inna” amil nawasikh. “Jami’atun” menjadi khabar dari “inna”.
Riwayat Muslim: As-Shalatu Jami’atun
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَعَثَ مُنَادِيًا: «الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ»، فَاجْتَمَعُوا. صحيح مسلم : 2/ 620
Saat gerhana di zaman Nabi, Nabi mengutus orang yang memanggil (untuk shalat): as-Shalatu Jamiatun. (Shahih Bukhari)
Susunannya masih dengan tarkib isnadiy, Mubtada-khabar.
Boleh 4 Macam
Jika “as-Shalata” dibaca dengan fathah dalam hadits Bukhari kan karena ada amil nawasikh “inna”. Bagaimana jika tak ada “inna”nya?
Tetap boleh. Sebagaimana pernyataan dari Syeikh Ibnu Hisyam (w. 761 H); salah seorang pakar bahasa Arab abad ke-8, saat menjelaskan kitab al-Fiyah karya Imam Ibnu Malik al-Andaluisiy ad-Dimasyqiy (w. 672 H). Beliau menyebutkan dalam kitabnya Audhah al-Masalik:
ويقال: "الصلاةَ جامعةً"؛ فتنصب "الصلاة" بتقدير احضروا، و"جامعة" على الحال. أوضح المسالك إلى ألفية ابن مالك، عبد الله بن يوسف بن أحمد بن عبد الله ابن يوسف، أبو محمد، جمال الدين، ابن هشام (المتوفى: 761هـ)، ص. 4/ 76
“as-Shalata Jami’atan” lafadz as-shalat dibaca nashab menjadi maf’ul bih, dengan mengira-ngirakan fi’il atau kata kerja ‘uhdhuru”; hadirlah kalian semua. “Jami’atan” dibaca nashab menjadi “hal”. (Ibnu Hisyam w. 761 H, Audah al-Masalik, h. 4/ 76)
Dalam ilmu nahwu atau gramatikal Bahasa Arab, itu disebut dengan i’rab ighra’, penganjuran terhadap suatu kebaikan.
Bahkan dalam tahqiq kitab Audhah al-Masalik yang ditulis oleh Syeikh Yusuf as-Syeikh Muhammad al-Biqa’iy disebutkan bahwa bisa 4 model dalam membacanya:
- Fathah-fathah : as-Shalata Jami’atan
- Dhammah-dhammah : as-Shalatu Jami’atun
- Dhammah-fathah : as-Shalatu Jami’atan
- Fathah-dhammah : as-Shalata Jami’atun
Pertama, fathah-fathah atau as-shalata jami’atan. Ini sebagaimana penjelasan Ibnu Hisyam (w. 761 H) diatas.
Kedua, dhammah-dhammah atau as-shalatu jami’atun. Yaitu menggunakan susunan isnadiy, mubtada-khabar.
Ketiga, dhammad-fathah atau as-Shalatu jami’atan. As-Shalatu dibaca rafa’ dengan alamat dhammah karena menjadi mubtada’, dimana khabar-nya dibuang, kira-kira khabar-nya adalah mathlubatun. “Jami’atan” dibaca nashab dengan fathah karena menjadi “hal”. Seolah kita ucapkan [الصلاة مطلوبة حال كونها جامعة].
Keempat, fathah-dhammah atau as-shalata jam’atun. Yaitu as-shalata dibaca nashab dengan fathah karena i’rab ighra’. Sedangkan jami’atun menjadi khabar dari mubtada’ yang dikira-kirakan. Seolah kita ucapkan [احضروا الصلاة وهي جامعة]. ((Ibnu Hisyam w. 761 H, Audah al-Masalik, h. 4/ 76, ditahqiq dan dijabarkan oleh Syeikh Yusuf as-Syeikh Muhammad al-Biqa’iy).
Maka, mana yang tepat; as-shalatu atau as-shalata?” Keduanya boleh digunakan. Waallahua’lam