Rumah Fiqih Indonesia

📖 FIKRAH

Lebaran Kita Yang Mahal

Ada sebuah pertanyaan besar yang perlu kita renungkan, apakah semua ini untuk rasa syukur ataukah memang dasarnya kita ini terlalu suka kehidupan yang bersifat konsumtif?
Lebaran memang benar-benar hari raya yang memakan biaya teramat besar dan juga amat mahal. Dibilang mahal, karena uang yang dipersiapkan untuk lebaran sangat besar, jumlah pemudiknya pun juga amat besar, bahkan liburnya pun amat panjang.

Jumlah Uang

Tahukah anda berapa biaya yang disiapkan oleh Bank Indonesia buat persiapan Ramadhan dan Lebaran di tahun 2013 ini?

Sebuah berita menarik dari Bank Indonesia (BI). Lembaga itu ternyata menyiapkan uang tunai sebesar Rp 146 triliun untuk keperluan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri tahun ini, sementara untuk kebutuhan uang tunai masyarakat diperkirakan BI mencapai Rp 103 triliun.

“Angka ini dibanding tahun lalu naik sekitar hampir 20 %. Tahun lalu kita siapkan Rp 89 triliun, yang terserap Rp 86 triliun,” kata Deputi Gubernur BI Ronald Waas di Jakarta, Selasa (30/7/2013) malam. (baca : http://www.nusaforex.com/bank-indonesia-siapkan-uang-tunai-rp-146-triliun-untuk-lebaran-18694.html)

Jumlah Pemudik

Menurut prediksi Kementerian Perhubungan, total pergerakan orang pada masa mudik Lebaran 2013 mencapai 30 juta orang. Lebih dari separuhnya, atau 55 persen di antara mereka, melakukan pergerakan dengan menumpang kendaraan pribadi dan 45 persen yang menggunakan angkutan umum.

Secara persentase kumulatif, jumlah pemudik tahun 2013 dibandingkan tahun 2012, mengalami kenaikan berkisar 6,7 persen, dimana pemudik diperkirakan mencapai 30 juta orang, baik yang berasal dari kota-kota besar di Indonesia maupun para TKI di luar negeri.

Semua itu tentu membutuhkan biaya besar, bukan hanya ongkos angkutan yang harganya menjulang, tetapi para pemudik umumnya membawa pulang juga sejumlah uang yang tidak sedikit. Kalau ditotal, rasanya akan berjumlah trilyunan rupiah.

Belum lagi belanja hadiah parcel yang kadang harganya tidak masuk akal, entah karena curang atau memang begitulah cara meraup keuntungan yang jarang-jarang terjadi.

Libur Resmi Yang Panjang

Dari segi hari libur saja, negara kita secara resmi telah menetapkan libur yang teramat panjang, di luar libur tidak resminya.

Cuti bersama ditetapkan sejak hari Senin 5 Agustus, Selasa 6 Agustus dan Rabu 7 Agustus. Hari Kamis dan Jumatnya libur resmi nasional, yaitu Hari Raya Idul Fitri pada Kamis 8 Agustus dan Jumat 9 Agustus. Berarti seminggu penuh adalah libur resmi, yang diapit oleh dua libur mingguan.

Maka kalau dijumlahkan secara keseluruhan, libur berlangsung sejak hari Sabtu tanggal 3 Agustus hingga Senin 12 Agustus, totalnya 9 hari.

Selama itu berarti pemerintahan dan kantor-kantor umumnya tutup, aktifitas produksi pun banyak yang ikut berhenti. Semua itu terjadi tidak lain karena merayakan hari Idul Fithr, yang merupakan hari raya umat Islam, khususnya bangsa Indonesia.

Tentu saja segala hiruk pikuk Idul Fithri ini lebih merupakan tradisi bangsa, yang tumbuh bercampur dengan berbagai macam kebiasaan di tengah masyarakat.

Idul Fithir  Dalam Versi Originalnya

Lalu sebenarnya bagaimana sosok hari Raya Idul Fithri dalam versi aslinya yang masih original?

Idul Fithr memang bagian dari syiar agama Islam, dimana hari itu dianggap sebagai hari raya. Namun kalau kita kaitkan dengan apa yang sudah menjadi tradisi bangsa ini dalam kaitannya dengan Idul Fithri, perlu juga kita ingat-ingat garis aslinya dalam beberapa point besar, misalnya ;

1. Idul Fithri Hanya Tanggal 1 Syawwal

Dalam agama Islam, yang disebut sebagai Hari Raya Idul Fithr itu hanya tanggal 1 Syawwal saja, tanggal 2 dan seterusnya sudah bukan hari raya lagi.

Tapi yang kita lihat, meski resminya tanggal merah hanya 2 hari, tetapi lebaran di kampung kita bisa sampai sebulan. Lalu lalang orang mudik dan arus baliknya, juga bisa lebih dari 2 minggu, mulai dari H-7 hingga H+7.

Berbagai acara halal bi halal yang digelar, meski sering dibilang itu berisi pengajian, ceramah dan memperdalam ilmu agama, tetapi biasanya susah untuk dihindari dari acara makan-makan. Seolah semua kegiatan keagamaan, harus disertai dengan makan-makan. Itu yang saya alami sendiri.

Tadinya saya kira, cukup sudah berbagai undangan ceramah dengan judul acara buka puasa membuat badan ini gemuk, tetapi ternyata undangan `makan-makan` masih terus berdatangan. Kali ini judulnya pengajian halal bi halal, tapi esensinya tetap tidak lepas dari urusan makan juga.

2. Hakikat Puasa Adalah Hidup Sederhana

Pelajaran yang paling mendasar tentang hakikat berpuasa selama sebulan penuh adalah bahwa puasa itu mendidik kita untuk hidup sederhana. Makan dan minum apa adanya, kalau pun ada kegembiraan, sesunggunya karena kita merasa bersyukur bahwa Allah memberi kita izin untuk bisa menempuh puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Kegembiraan yang lahir dari sukses telah menjalankan perintah Allah.

Tapi yang kita lihat, justru sejak belum masuk Ramadhan, cara makan dan minum kita, bahkan belanja kita, jauh dari sikap hidup sederhana. Puncaknya waktu lebaran, bayangkan bangsa kita yang miskin ini sampai menggelontorkan uang yang teramat besar hingga bernilai total bertrilyun-trilyun.

Ada sebuah pertanyaan besar yang perlu kita renungkan, apakah semua ini untuk rasa syukur ataukah memang dasarnya kita ini terlalu suka kehidupan yang bersifat konsumtif?

Kalau untuk berkirim kartu ucapan Selamat Lebaran sampai harus mengeluarkan uang sampai 1,7 milyar, rasanya jauh dari rasa syukur. Mending uang segitu untuk membangun sekolah yang roboh, atau untuk memberi lapangan kerja buat rakyat semakin hari semakin banyak yang jadi pengangguran.

Tentu tulisan ini bukan dalam kapasitas untuk mengkritik si A atau si B. Ini adalah masalah lifestyle bangsa kita, yang terlanjur menjadikan belanja konsumtif sebagai budaya. Meski keadaan ekonomi susah. Dan sayangnya, tidak jarang semua itu dikaitkan dengan hari raya agama.

3. Demi Kebutuhan Lebaran Rela Mengambil Yang Haram


Kerawanan dalam pencurian, penipuan, perampokan dan berbagai bentuk kriminalitas umumnya meningkat seiring dengan datangnya lebaran. Entah siapa yang bisa kita salahkan, apakah malingnya atau orang yang kemalingan. Yang pasti, tidak sedikit maling yang terpaksa melakukan perbuatan haram, demi untuk biaya lebaran.

Padahal merayakan lebaran itu tidak perlu biaya, tidak harus sepanjang waktu dan juga bukan dengan belanja ini dan itu. Tetapi para maling pun tidak mau disalahkan begitu saja. Mereka beraksi juga sebagiannya karena pengaruh kesempatan.

Bagaimana para jambret tidak melhat kesempatan, kalau nyaris semua orang ramai-ramai membawa uang, perhiasan dan uang saat mudik. Mulai dengan cara pura-pura sampai bawa senjata, bahkan pakai hipnotis pun dilakoni, yang penting bisa dapat rampasan.

Seberapa Efektif Nilai Pendidikan Ramadhan


Kalau sudah begini, lagi-lagi kita harus berpikir keras, selama ini begitu banyak pengajian dan kajian di gelar di bulan Ramadhan, terus sejauh mana semua itu bisa mengubah cara hidup yang kurang sejalan dengan semangat Ramadhan dan Idul Fihtri ini?

Semua perlu kita renungkan sekali lagi rasanya.

Berita Fikrah Terbaru

Lihat Semua Artikel »