Rumah Fiqih Indonesia

📖 FIKRAH

Imsak : Tidak Makan dan Minum

Banyak orang mengira imsak itu berarti waktu menjelang shubuh kurang lebih sepuluh menit. Ketika masuk waktu 'imsak', kita seolah diingatkan bahwa sebentar lagi waktu berpuasa dimulai dan diminta untuk bersiap-siap. Padahal makna kata imsak yang sebenarnya dari itu.
Banyak orang mengira imsak itu berarti waktu menjelang shubuh kurang lebih sepuluh menit. Ketika masuk waktu 'imsak', kita seolah diingatkan bahwa sebentara lagi waktu berpuasa dimulai dan diminta untuk bersiap-siap.

Padahal makna yang sebenarnya dari kata imsak bukan itu. Kata dasarnya adalah amsaka - yumsiku - imsakan (أمسك - يمسك - إمساكا ) yang artinya menahan.  Maksudnya menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri dan semua hal yang membatalkan puasa.

Jadi makna imsak itu tidak lain adalah puasa itu sendiri. Puasa adalah imsak dan imsak adalah puasa. Kita diwajibkan melakukan imsak sejak masuknya waktu shubuh sepanjang hari hingga matahari terbenam, alias waktu maghrib.

Lalu bagaimana dengan istilah 'imsak' yang terlanjur kita gunakan untuk menandakan bahwa 10 menit lagi masuk waktu shubuh itu?

Sebenarnya tidak ada ketentuan syariah untuk mengadakan peringatan 'imsak' ini. Tetapi dipandang cukup berguna juga, agar jangan sampai kita mendadak harus mulai puasa, padahal di mulut kita masih penuh dengan makanan. Maka sebaiknya sebelum masuk shubuh kita sudah mulai 'menahan' untuk tidak makan dan minum.

Memang detik-detik persiapan ini tidak punya istilah resmi khusus, karena memang tidak harus. Bukankah di luar bulan Ramadhan, kita pun tidak mengenal istilah imsak-imsakan. Toh batas mulai puasa bukan waktu 'imsak' melainkan waktu shubuh.

Tetapi kalau ngotot tetap mau pakai istilah tertentu, carilah istilah yang benar. Misalnya sebutlah "Menjelang Imsak". Atau gunakan istilah : "Siap-siap 10 menit lagi shubuh!". Atau bisa juga : "Siap-siap mulai puasa". Atau kalau mau pakai bahasa Arab, bisa juga menggunakan istilah Wasyak, yang diambil dari kata 'ala wasykil fajri (menjelang fajar). Kalau rada keren, bisa juga pakai T3, ten to twiligh, yaitu 10 menit menjelang fajar.

Tetapi mengganti penyebutan suatu istilah yang sudah terlanjur digunakan oleh semua orang bukan perkara yang mudah. Saya pun tidak yakin istilah 'imsak' yang terlanjur rancu itu bisa diubah.

Buktinya di kampung ibu saya, kepala desa kemarin memberi sambutan bahwa seluruh warganya sudah sejahtera. Buktinya tiap rumah punya 'Honda'. Hondanya ada yang Vespa, Yamaha, Suzuki dan lainnya. Oh, barangkali maksudnya warga punya sepeda motor. Tetapi terlanjur semua orang menyebut sepeda motor itu dengan sebutan 'Honda'. Seolah-olah makna Honda adalah sepeda motor.

Mesin air di rumah-rumah kita pun terlanjur disebut dengan 'Sanyo', apapun mereknya. Walapun mereknya Shimizu, Hirtachi, Wasser, DUB, Panasonic dan lainnya, tetapi orang-orang tetap menyebut Sanyo. Seolah-olah Sanyo itu berarti mesin pompa air, padahal merek dagang.

Dan semua orang terlanjur menyebut air minum kemasan dalam botol sebagai 'Aqua', apapun mereknya. Walaupun mereknya macam-macam, tetap saja disebut Aqua. Seolah-olah makna Aqua adalah air minuman kemasan dalam botol plastik.

Orang-orang di Saudi Arabia menyebut handphone sebagai 'Jawwal'. Ternyata karena operator yang beroperasi pertama kali beroperasi disana menggunakan nama produk Al-Jawwal. Lalu semua orang menyebut handphone sebagai jawwal. Kira-kira kalau disini orang menyebut HP dengan IM3, XL, AS.

Sebenarnya masih banyak lagi istilah-istilah yang mengalami keterpelesetan makna. Pada kesempatan lain insya Allah akan kita bahas. Misalnya istilah takjil, atau ungkapan Minal Aidin wal Fazin, Idul Fithri dan Halal bi Halal.

Berita Fikrah Terbaru

Lihat Semua Artikel »