Memang benar bahwa buku karya JK Rowling telah membuatnya (konon) lebih kaya dari ratu Ratu Elizabeth II di Inggris hanya gara-gara Harry Potter.
Memang benar pengakuan seorang penulis buku best seller Muh. Fauzil Adhim yang terang-terangan menyebutkan bahwa ia mendapatkan royalti sekitar 15-25 juta rupiah per bulan untuk bukunya terjual lebih dari 100 ribu kopi.
Memang benar Novel Laskar Pelangi (Tetralogi) yang ditulis oleh Andrea Hirata meledak di pasaran, konon ada yang menghitung bahwa penulisnya mengantongi setidaknya 5 milyar. Entah benar atau tidak, tentu perlu dikonfimasi kepada yang bersangkutan.
Ketika memberi motivasi agar para calon ulama masa depan produktif menulis, saya menghindari iming-iming kekayaan macam para penulis di atas. Sebab buku yang ditulis para ulama itu bukan tipe buku best-seller, yang langsung laris manis bak kacang goreng begitu terbit.
Buku yang ditulis para ulama adalah buku yang lebih merupakan petunjuk kehidupan, yang hanya akan dicetak sangat terbatas saja. Bukan apa-apa, karena meski pameran buku Islam kelihatannya semarak, tetapi kalau diteliti lebih dalam, yang laris manis itu lebih merupakan buku-buku sekelas fiksi, novel dan chiken soup.
Tanpa mengurangi rasa hormat atas karya penulisnya, namun buku-buku semacam itu termasuk jenis bacaan ringan, yang bisa sekali baca dan selesai.
Sedangkan buku tulisan para ulama adalah buku sepanjang hidup. Coba perhatikan bagaimana kitab semacam Riyadhus-Shalihin, Shahih Bukhari, Fathul Qarib, Ihya Ulumid-din dan lainnya dijadikan kitab pegangan di banyak pengajian dan pesantren sepanjang zaman.
Kitab-kitab semacam itu memang tidak meledak di pasaran, juga tidak membuat penulisnya kaya mendadak. Tetapi kitab-kitab itu adalah kitab abadi, yang terus menerus dibaca orang di berbagai belahan dunia. Tentunya pahalanya akan terus mengalir sepanjang masa kepada penulisnya yang sudah berada di alam baka.
Apalagi kita-kitab itu berisi ilmu yang mengajak orang kepada ketundukan kepada Allah secara benar. Kitab itu bukan sekedar menguras air mata pembaca, atau asyik membayangkan mimpi indah di dunia lain.
Maka ada garis perbedaan yang jelas antara kedua genre penulisan buku. Yang satu instan menghasilkan uang, dan yang satu menjadi tabungan amal di alam berikutnya.
Silahkan pilih