Sebuah undangan ceramah di bulan Ramadhan saya terima dari suatu kepanitiaan kegiatan Ramadhan. Sekilas isi undangan itu biasa saja, tidak ada yang unik.
Tetapi begitu saya cermati lebih dalam, di bagian tema kajian ada tertulis sesuatu yang tidak biasanya. Biasanya, yang namanya undangan ceramah Ramadhan, panitia minta saya membahas tentang materi yang terkait dengan puasa atau zakat.
Kadang dengan ditambahi dengan istilah-istilah yang aneh-aneh, yang mungkin biasa dipakai oleh Event Organiser (EO) dan para trainner motivasi. Misalnya ada yang bikin tema : Puasa Super dan Ramadhan. Ada juga yang rada pasaran seperti : Hikmah Puasa, Ramadhan Membentuk Pribadi Iman dan Taqwa.
Tetapi panitia yang satu ini rada nekat, materi yang diminta tertulis dengan huruf besar dan ditebalkan : MATERI APA SAJA ASAL JANGAN TENTANG PUASA ATAU ZAKAT.
Seklias saya sempat bengong membacanya, tetapi kemudian saya jadi senyum-senyum sendiri. Sudah terbayang di benak saya, wajah-wajah jamaah yang bosan diceramahi tentang hikmah Ramadhan atau tema-tema yang mirip dan yang itu-itu juga.
Bahkan saya pun sudah bisa membayangkan, pasti qari' yang mengawali acara ceramah Ramadhan itu akan membaca ayat yang itu-itu juga dan selau diulang-ulang selama Ramadhan, yaitu ayat kutiba alaikumus shiyam. Saking seringnya mendengar ayat itu hingga ada anak paling bandel yang mempelesetkan menjadi kutiba di tanah air.
Astaghfirullah...
Tetapi saya jadi berpikir, kenapa ya ada panita yang sampai senekat itu dalam memberi judul ceramah. Pokoknya apa saja, asalkan jangan tentang puasa atau zakat.
Asumsi saya, barangkali mereka merasa bosan dengan tema yang itu-itu saja. Tiap penceramah datang memberi materi yang diulang-ulang, walaupun dengan cara dan gaya penyajian yang berbeda.
Ceramah Ramadhan Kehabisan Tema
Kehabisan tema di bulan Ramadhan sehingga judul ceramah terulang-ulang memang bukan baru hari ini saja terjadinya dan pastinya tidak dialami oleh satu dua tempat saja.
Maka dari itu ada masjid yang membuat pengajian selama Ramadhan dengan membuatkan tema yang sudah ditetapkan, dimana dipastikan antara tema yang satu dengan yang lainnya pasti berbeda.
Tema Biografi Shahabat Nabi
Di salah satu masjid yang biasa saya mengajar, selama Ramadhan menetapkan akan membahas biorgrafi para shahabat Nabi ridwanullahi'alaihim. Tiap hari satu shahabat, maka selama sebulan selesai 30 shahabat.
Yang menarik, tiap penceramahnya diberi bahan materi tertulis yang difotocopy dari sebuah buku, dan tentunya harus dibaca terlebih dahulu. Maka resiko terulang-ulangnya materi pengajian tidak akan terjadi. Bahkan para jamaah merasa mendapatkan ilmu tambahan yang boleh jadi selama ini belum pernah mereka dapatkan.
Tetapi kasihan juga para penceramahnya, sebab mereka 'terpaksa' harus belajar dulu. Biasanya satu bahan ceramah bisa diulang-ulang dimana saja, ternyata kalau mau ceramah di masjid itu, harus baca-baca bahannya dulu.
Tema Ilmu Mawaris
Sedangkan saya sendiri pernah dalam kesempatan Ramadhan mengajak jamaah di suatu masjid untuk konsentrasi menghabiskan materi pelajaran fiqih mawaris. Sebuah ilmu yang nyaris tidak pernah diajarkan lagi di masa sekarang. Bahkan sebaian besar umat Islam nyaris buta dengan ilmu ini.
Dan uniknya, belajar ilmu waris ini memang tidak bisa hanya dengan satu kali pertemuan, apalagi hanya kultum tujuh menit.
Maka selama 10 hari i'tikaf, ilmu mawaris diajarkan kepada para jamaah. Nara sumbernya memang berganti-ganti, tetapi karena kami satu team, maka pembagian materinya sudah dikonsep dengan matang, mana yang harus didahulukan dan mana yang ditunda.
Hasilnya di akhir Ramadhan, para jamaah sudah mahir menghitung sendiri harta waris mereka. Bahkan bisa dibuatkan tes atau ujian, dan ada sertifikat kelulusan.
Kelebihan dan Kekurangan
Menetapkan tema tertentu dalam pengajian selama Ramadhan tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Di antara kelebihannya tentu tidak ada resiko terulang-ulang seperti yang dikhawatirkan di atas. Selain itu biar pengajian Ramadhan ada peningkatannya, tidak melulu mengaji tentang puasa dan hikmahnya. Agar jamaah mendapatkan tambahan ilmu yang benar-benar baru dan berguna.
Tetapi kekurangannya, kadang idealisme panitia sering berbenturan dengan permintaan dari jamaah sendiri, atau dari bapak-bapak pejabat suatu masjid. Mereka ini sering minta agar panitia menghadirkan tokoh-tokoh penceramah yang termasyhur, bahkan kalau bisa yang wajahnya sering tampil di TV. Mereka tidak peduli dengan isi materinya yang barangkali semua sudah hafal. Ada istilah : biar tekor asal nyohor.
Kekurangan lainnya barangkali memang tidak mudah mendapatkan nara sumber yang punya spesifikasi bidang ilmu tertentu. Kalau yang bisa lucu dan bikin gerrr sih banyak. Tetapi yang ilmunya mendalam di bidang tertentu, memang agak susah mengenalinya.
Kadang narasumbernya sendiri pun rada ngawur juga. Sudah tahu bahwa dirinya bukan ahli di bidang suatu ilmu, tapi sok merasa paham dan terlalu percaya diri bisa menyampaikannya. Akibatnya, ketika ada yang bertanya dengan lebih menukik, dia terdiam karena tidak bisa jawab.
Oleh karena itu, biar aman, ada juga nara sumber yang paling anti dengan forum tanya jawab. Kalau sekedar ceramah sih oke, tapi giliran ditanya ini dan itu, wah baru ketahuan bahwa ilmunya cuma sebatas yang dijadikan bahan ceramah saja.
Kemana pun dia berceramah, materinya ya itu-itu saja. Joke dan bahan lucu-lucuannya pun ya sudah dihafal para jamaah. Dalil yang dijadikan pegangan adanya : ballighu anni walau ayatan, sampaikan walau pun hanya satu ayat.
Waduh . . .