Rumah Fiqih Indonesia

📖 FIKRAH

Kurang Akurat

Ratusan juta orang di dunia makan babi. Orang Eropa dan Amerika makan babi. Orang China juga makan babi. Orang Afrika lebih-lebih lagi. Bahkan di pedalaman Papua banyak orang makan babi. Tetapi tidak otomatis lantas jadi bodoh atau berpenyakit seperti yang dituduhkan.
Buat sebagian kalangan, urusan akurasi materi dakwah bukan masalah prioritas. Sebab yang lebih utama bukan akurasi tetapi tujuan dan maksud. Padahal sebenarnya, urusan akurasi materi dakwah, terlebih masalah hukum-hukum fiqhiyah, tidak boleh sembarang disampaikan. Sebab nanti bisa terjadi salah kesimpulan.

Contohnya kemarin ada seorang ustadz berceramah. Tujannya pasti kita sepakati, yaitu bahwa babi itu haram dan kita diharamkan makan babi. Cuma sayangnya, alasan yang dikemukakan kurang akurat. Beliau bilang kenapa Allah haramkan babi? Karena babi itu bikin orang jadi goblok dan penyakitan.

Saya sempat terhenyak mendengarnya rada tidak percaya. Ah, masak sih Allah mengharamkan babi semata karena mengakibatkan kebodohan dan menimbulkan penyakit.

Lucunya jamaah yang diceramahi nampak kagum dan manggut-manggut, mungkin tanda setuju. Padahal alasan keharamannya jelas tidak akurat.

Kira-kra dimana letak tidak akuratnya?

Pertama, tidak ada satu pun ayat atau hadits yang menyebutkan PENYEBAB larangan makan babi. Apalagi dalil yang menyebutkan kalau makan babi bikin orang jadi goblok atau penyakitan.

Jadi kalau ustadz itu bilang, Allah haramkan babi karena sebab ini dan itu, jelas rujukannya bukan Al-Quran dan As-Sunnah.

Kedua, kalau pun makan babi itu bisa bikin orang penyakitan atau jadi bodoh, dan itu mau disebut hikmah dan bukan penyebab, ternyata sebagai hikmah juga terbantahkan dengan sendirinya.

Sebab di dunia ini puluhan juta orang makan babi. Orang Eropa dan Amerika makan babi. Orang China juga makan babi. Orang Afrika lebih-lebih lagi. Bahkan di pedalaman Papua banyak orang makan babi.

Lalu apakah negeri yang penduduknya makan babi, semua rakyatnya pada goblok-goblok dan penyakitan? Ya, tentu saja tidak.

Jackie Chen, Jet li dan Bruce Lee termasuk doyan makan babi. Tapi mereka jago kungfu dan sukses main banyak film. Juga tidak penyakitan seperti yang dituduhkan.

Lalu kenapa babi diharamkan?

Jawabnya bahwa babi itu haram semata-mata karena Allah haramkan. Sebagai muslim kita tidak butuh alasan, mengapa Allah 'iseng' pakai acara main haramkan babi segala. Buat kita yang muslim ini, sekali ditetapkan haram oleh Allah, ya sudah haram saja. Kita tidak butuh alasan keharaman.

Sebagaimana Nabi Adam ketika dilarang makan dari buah pohon tertentu di surga, beliau tidak banyak cincong bertanya kenapa buah itu diharamkan.

Justru Iblis lah yang membujuk Adam untuk memakannya. Bahan bujukannya karena konon kalau dimakan buahnya akan membuat hidup abadi. Padahal ternyata setelah betulan dimakan pun tidak juga bikin abadi. Buktinya meski Nabi Adam sudah memakannya, beliau sekarang sudah wafat tuh, tidak abadi juga.

Kita sepakat babi itu haram dimakan, tetapi alasannya bukan karena daging babi bisa bikin kita jadi bodoh atau penyakitan. Alasan itu kurang akurat.

Alasannya karena Allah mengharamkannya. Larangan makan babi tidak berlaku buat non-muslim. Maka kita tidak perlu mencari-cari alasan biar non-muslim ikut-kutan tidak makan babi. Biarkan saja mereka makan babi, sebab buat mereka memang tidak berlaku larangan itu.

Tugas kita bukan bagaimana membuat orang kafir tidak makan babi. Tugas kita bagaimana mereka beriman dulu kepada Allah dan rasul-Nya. Setelah itu, silahkan jalankan semua ketentuan dan jauhi semua larangan-Nya.

Larangan makan babi cuma berlaku buat kita yang muslim, tanpa butuh alasan apapun, kecuali semata karena Allah melarang makan babi bagi kita.

Karena itulah kita layak disebut muslim (orang yang berserah diri kepada ketentuan Allah) dan mukmin (orang yang beriman atas semua ketentuan Allah).


Berita Fikrah Terbaru

Lihat Semua Artikel »