Rumah Fiqih Indonesia

📖 FIKRAH

Ibadah Terbawa Suasana

Diakui atau tidak, kebanyakan masyarakat kita dalam menjalankan ibadah masih lebih dipengaruhi faktor suasana. Kalau suasananya mendukung, ibadah jadi rajin sekali dikerjakan. Tidak menunggu hukumnya wajib, yang sunnah-sunnah pun diperjuangkan mati-matian untuk dikerjakan. Tetapi...
Diakui atau tidak, kebanyakan masyarakat kita dalam menjalankan ibadah masih lebih dipengaruhi faktor suasana. Kalau suasananya mendukung, ibadah jadi rajin sekali dikerjakan. Tidak menunggu hukumnya wajib, yang sunnah-sunnah pun diperjuangkan mati-matian untuk dikerjakan.

Contohnya bulan Ramadhan ini. Biasanya di luar Ramadhan, yang ikut shalat shubuh berjamaah cuma dua shaf.  Begitu masuk bulan Ramadhan, jamaah sampai berjejal-jejal saking banyaknya, bahkan ada yang sampai tidak kebagian shaf. Luar biasanya.

Yang jarang-jarang baca Al-Quran, masuk bulan Ramadhan ini tiba-tiba jadi rajin tilawah. Bahkan bisa mengkhatamkan beberapa kali dalam sebulan. Hebat bin mantap.

Mereka yang biasanya tidak pernah sedekah, masuk bulan Ramadhan ini tiba-tiba jadi rajin merogoh kantong. Semua kotak amal yang biasanya lewat dicuekin, tiba-tiba penuh dengan cepat. Kontan pengurus masjid senyum lebar.

Bahkan Bang Haji Daimun yang sehari-harinya jarang shalat lima waktu, seminggu menjelang Ramadhan tiba-tiba memborong baju koko dan sarung. Buat persiapan shalat tarawih di bulan Ramadan, katanya.

Semua peningkatan ibadah, baik kualitas ataupun kuantitas di atas, tentu harus kita syukuri dan hargai. Jangan diejek apalagi dicemooh.

Selesai Ramadhan Selesai Semua


Sayangnya begitulah yang terjadi. Maksudnya, begitu Ramadhan sudah berlalu, ternyata semua eforianya pun ikut berlalu. Yang tadinya masjid penuh jamaah shubuh, masuk lebaran balik lagi tinggal dua shaf. Yang tadinya khatam berkali-kali baca Quran, usai Ramadhan tidak baca-baca lagi. Isi kotak amal masjid pun kembali seperti semula, minimalis.

Memang kita masih beribadah karena faktor suasana. Di luar Ramadhan,  boro-boro mengerjakan yang sunnah, yang wajib saja sering ditinggalkan. Di sisi lain jangankan meninggalkan yang makruh, yang haram pun sering ditabrak juga.

Inilah penyakit laten yang selalu menghinggapi kita. Rajin ibadah kalau pas suasananya lagi ngetrend. Begitu sudah tidak ngetrend, lupa total.

Rajin Di Tanah Suci

Contoh suasana mendukung lainnya adalah ketika kita sedang berada di tanah suci Mekkah. Lihat betapa rajinnya kita ke masjid tatkala sedang menjalankan ibadah umrah atau haji. Tiap shalat lima waktu, pasti pergi ke masjid. Rasanya rugi sekali kalau sampai ada waktu shalat yang terlewat tanpa ke masjid.

Apalagi selama di Madinah, banyak yang mengejar-ngejar shalat fardhu 40 waktu berturut-turut. Meskipun waktu Maghrib masih lama, jamaah sudah pada ribut berangkat ke masjid. Mau shalat jamaah, begitu mereka bilang. Wah, wah, rajin banget mereka ya.

Sayangnya, selesai umrah pulang ke tanah suci, wusss... sifat rajinnya itu hilang begitu saja entah kemana. Tiada lagi hari-hari bergegas-gegas mengejar shalat berjamaah ke masjid.

Inilah bukti bahwa kita ini dalam beribadah masih sangat bergantung pada suasana sekitar. Ketika semua orang rajin ibadah, kita pun tak mau kalah. Ketika lingkungan kita malas, kita pun tidak mau ketinggalan, ikut-ikutan malas.

Yang Delapan pun Jadi Dua Puluh

Masih cerita tentang tanah suci, tetangga saya kemarin baru pulang umrah Ramadhan. Dia cerita bahwa selama semingguan disana, tidak pernah lepas shalat tarawih, meskipun jumlah 20 rakaat dan menghabiskan waktu sampai dua jam.

Padahal setahu saya, biasanya di tanah air shalat tarawihnya tidak pernah lebih dari 8 rakaat. Kalaupun masjid di depan rumah kami bermazhab 20 rakaat dan dia ikut berjamaah disitu, tetapi begitu dapat 8 rakaat langsung ngacir pulang. Entah dalil apa yang ada di dalam kepalanya.

Namun selama di tanah suci, saking mendukungnya suasana, yang biasanya ngotot tarawih cuma 8 rakaat pun bisa dengan sangat ikhlas dan ridha mengerjakan sampai 20 rakaat. Pakai qunut panjang pula. Subhanallah.

Seandainya semangat itu bisa dibuat langgeng terus, baik dalam Ramadhan atau sesudahnya, baik di tanah suci atau di tanah air, tentu kualitas dan kuantitas ibadah kita akan terus bernilai tinggi.

Tetapi semua peningkatan yang semusim itu pun sudah baik, tidak harus diejek atau dicemooh. Tetap lebih baik dari pada yang sama sekali tidak mengalami kenaikan apapun. Ramadhan tidak Ramadhan, kualitas ibadahnya begitu-begitu saja, tidak ada peningkatan, tentu yang begitu malah lebih buruk dari pada yang sempat meningkat sebentar lalu turun lagi. Mnimal sempat ada peningkatan dari pada tidak sama sekali.

Dan yang paling parah adalah yang justru selama Ramadhan kualitas dan kuantitas ibadahnya malah turun anjlok. Lebih buruk dari di luar Ramadhan, tentu amat sayang sekali.

Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika.
 

Berita Fikrah Terbaru

Lihat Semua Artikel »